Leksikom Pertanian dalam Bahasa Jawa (Kudus) dan Bahasa Sasak (Lombok)


Alhamdulillah, akhirnya hari ini selesai sudah presentasi pertama di semester dua ini. Baru aja, saya ama dua temen saya, Witra Fari ama Valdio presentasi makalah kita yang judulnya Leksikon Pertanian dalam Bahasa Jawa (Kudus) dan Bahasa Sasak (Lombok). Apa? Mau makalahnya? Oh yadah, ini saya kasih.



LEKSIKON PERTANIAN DALAM BAHASA JAWA (KUDUS) DAN BAHASA SASAK (LOMBOK)
BAHASA DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Oleh:
Witra Fari Ning Rizki
185110801111007
Valdio Ranggatama A
185110801111017
Fariduddin Aththar AM
185110800111020
Antropologi Budaya
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Brawijaya
Malang
2019



Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Masyarakat Jawa yang tinggal di wilayah pedesaan, mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Dengan begitu, maka mereka memiliki hubungan yang erat sekali dengan padi, sawah, bercocok tanam dan hal – hal yang berkaitan dengan pertanian sehari – harinya. Lalu, untuk berkomunikasi tentang hal tersebut, masyarakat Jawa mengenal kosakata-kosakata spesifik yang mengacu pada dunia  sawah dan bercocok tanam. Dengan begitu, para petani sebagai komunitas penutur bahasa mempergunakan bahasa Jawa yang bermakna baginya.
Setiap bahasa, memiliki jumlah dan makna leksikon dalam ranah yang sama berbeda. Sebagai contohnya, bahasa Jawa memiliki leksikon–leksikon seperti pari, gabah, beras, menir, sego, karak, dan intip, yang jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, hanya memiliki satu leksikon saja, yaitu rice untuk mengacu kepada benda yang sama, yaitu padi.  Perbedaan jumlah dan makna leksikon dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain tersebut berkaitan dengan perbedaan cara pandang masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan terhadap ranah yang dimaksud.
Penelitian tentang leksikon pertanian dalam bahasa Jawa ini, yang dimulai dari pengolahan tanah, proses pembibitan dan tanam, proses pemeliharaan, proses panen, dan hasil, bertujuan untuk menguak cara pandang masyarakat Jawa dalam kehidupan dengan pendekatan linguistik antropologi, yaitu melihat bahasa dalam konteks sosial budaya yang luas (Foley, 1997).
1.2 Rumusan Masalah
  • Apa yang dimaksud dengan Leksikon Pertanian?
  • Apa saja Leksikon Pertanian yang ada?
1.3 Tujuan
  • Mengetahui definisi dari Leksikon Pertanian
  • Mengetahui daftar Leksikon Pertanian yang ada



Bab II
Tinjauan Pustaka
A.    Leksikon
Leksikon menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, memiliki beberapa makna, antara lain: 1) kosakata, 2) kamus yang sederhana, 3) daftar istilah dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya, 4) komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa, 5) kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa (Wikipedia).
Setiap bahasa memiliki leksikonnya tersendiri, bergantung pada sejarah suatu bahasa dan penuturnya. Jika bangsa penutur banyak berinteraksi dengan penutur dari bahasa lain, maka kemungkinan bertambahnya leksikon bahasa semakin besar dikarenakan adanya kata-kata serapan. Selain itu, leksikon juga dipengaruhi oleh klasifikasi masyarakat terhadap suatu objek yang berwujud maupun abstrak. Hal ini terjadi dalam bahasa inggris yang hanya memiliki satu istilah, yaitu ‘rice’ sedangkan dalam bahasa jawa bisa berarti pari, gabah, sego, dan menir bergantung pada bentuk dan keadaan.
Keragaman leksikon suatu bahasa juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Seperti halnya dalam penelitian ini yaitu lingkungan pertanian yang berada di pedesaan. Hal itu juga ditegaskan oleh Sapir bahwa lingkungan ragawi dan lingkungan sosial jelas tergambar dalam leksikon suatu bahasa. Dalam hal identifikasi warna, perempuan dapat mengenali warna lebih banyak daripada laki-laki dikarenakan focus perempuan pada detail lebih tinggi. Dalam hal ini, gender juga turut memengaruhi leksikon dalam suatu bahasa.
Hal yang perlu diketahui adalah dalam lingkup ekolinguistik, hubungan bahasa dan lingkungannya ada pada tataran leksikon atau kosakata saja, bukan, misalnya, pada tataran fonologi (bunyi bahasa) atau morfologi (bentuk kata) “this interrelation exists merely on the level of the vocabulary and not, for example, on that of phonology or morphology.
Leksikon bermakna dan berfungsi sebagai referensial, yakni khazanah leksikon yang referensi nyatanya dapat dilacak, dijejaki, dibuktikan secara empirik atau kasat mata, karena dapat ditemukan di lapangan, atau juga kendati masih diingat (dalam kognisi warga masyarakat di sekitarnya) oleh penuturnya, baik tua maupun muda. (Tarigan, 2016). Selain itu, leksikon juga berfungsi sebagai alat identifikasi masyarakat terhadap suatu objek, sehingga dapat memberikan keterangan yang detail. (Humaini, 2007) Sebagaimana pada contoh penamaan beras dari tanaman padi hingga menjadi nasi.
Pada dasarnya, leksikon suatu bahasa bergantung pada perkembangan budaya penuturnya. Perkembangan itu mencakup perubahan-perubahan leksikon yang dilihat dari berbagai segi, yaitu: penghilangan, penambahan, perluasan, penyempitan dan pertukaran. Penghilangan leksikon bisa terjadi karena konsep budaya yang menghilang dan pemilihan leksikon baru yang kurang lebih sama maknanya. Sedangkan penambahan leksikon disebabkan oleh tiga hal: belum ada padanan kata yang pas dalam bahasa penutur, adanya istilah yang kurang tepat maknanya, dan maraknya akronim.
Perluasan makna leksikon dapat dicontohkan dari kata ‘bapak’ atau ‘ibu’ yang mana setiap kata bermakna orang tua laki-laki atau perempuan. Saat ini, penggunaan dua kata itu tidak lagi merujuk pada status pernikahan maupun perkawinan, melainkan digunakan untuk memanggil laki-laki maupun perempuan yang berusia setengah baya maupun yang lebih tua untuk penutur yang lebih muda.
Penyempitan makna terjadi pada leksikon yang tidak lagi tampak makna luasnya seperti kata ‘dukun’ yang dahulu berarti ‘orang cerdik pandai’ dan kini berubah menjadi ‘orang yang menguasai ilmu magis’. Sedangkan pertukaran makna adalah gabungan dari penambahan dan penghilangan leksikon karena menghilangnya konsep budaya lama dan digantikan dengan konsep budaya baru dengan kesamaan fungsi maupun posisi yang mana juga turut mempengaruhi pertukaran leksikon. (Sibarani, 2004)





Bab III
Pembahasan
A.    Deskripsi Leksikon Pertanian
Berdasarkan kajian tersebut, leksikon bahasa Jawa di desa Kemulus kecamatan Mejobo kabupaten kudus, memiliki pembagian bahasa yang berkaitan dengan kategori leksikon berdasarkan aktivitas aktivitasnya, nama nama padi, bagian bagian padi, dll.
1.      Leksikon proses penanaman padi
Dalam proses penanaman padi, kata winehan berarti menyiapkan tempat pembibitan atau menyebarkan bibit, kata tersebut adalah ungkapan tempat. Setelah itu petani akan mencangkuli tanah dengan garu atau pacul, setelah itu tanah akan diberi air hingga basah dan kemudian akan di gemburkan menggunaka alat yang disebut dengan luku hingga siap di tanami
Kegiatan tanam padi dimulai dengan menganalisis dan mempertimbangkan cuaca, agar proses winehan akan berjalan mulus dengan thukul atau pertumbuhan yang baik
Maksud leksikon, dan proses penanaman padi dimulai dengan upacara syukuran. Ubo rampe, sebuah upacara suguhan yang memberi sesaji terdiri dari nasi yang dibentuk kerucut, kemudian baawang, terasi, dan lauk pauk seperti ikan, telor dan pisang yang ditujukan pada dewi sri, yang dipercayai sebagai penjaga sawah yang ditugaskan oleh Allah SWT. Doa diucapkan dengan bahasa jawa dan arab
·         Nyawur artinya menyemai saat musin ketiga atau kemarau
·         Nyebar artinya menyemai saat musim rendheng atau hujan

2.      Leksikon pengolahan tanah
Dalam pengolahan tanah para petani menyebutnya dengan nggarap sawah, garap sawah tersebut dilakukan pada saat musim tanam datang. Alat alat yang digunakan terdapat pacul, luku dan garu.
Garu digunakan untuk membalik tanah yang belum di basahi, sedangkab garu dipakai untuk, luku digunakan untuk meratakan dan menggeburkan tanah yang sudah dibasahi, dua alat tersebut dipakai jikalau terdapat kerbau. Kehadiran kerbau juga dapat membantu menyuburkan tanah dengan kotorannya.

3.      Leksikon pemeliharaan padi
Setelah proses pengolahan padi terdapat proses pemeliharaan padi. Terdapat leksikon yang berkaitan dengan aktivitas pemeliharaan padi antara lain yaitu;

·         Matun              : mencabuti rumput dengan tangan
·         Ngongrko        : mencabuti rumput dengan alat sungkro
·         Mbayoni          : menambah air kedalam sawah dan irigasi secara bergiliran
·         Sundep            : hama padi yang berupa penyakit
·         Yuyu                : hama padi yang berupa kepiting kecil

4.      Leksikon aktivitas pemanenan
Saat padi sudah menguning mulai proses pemanenan. Para petani mengenal beberapa leksikon untuk pemanenan berdasarkan alat dan aktivitasnya, antara lain yaitu;

·         Ngarit              : penanaman padi dengan cara memotong batang padi menggunakan arit, biasanya dilakukan oleh laki laki
·         Derep              : memanen padi menggunakan ani ani
·         Ngedos            : merontokan bulir padi yang disebut dengan dor
·         Ngebuk            : merontokan padi dengan cara memukul dengan batang kelapa atau batang kayu

5.      Leksikon pertumbuhan padi
Padi yang bertumbuhaannya baik hingga yang siap panen dengan baik memiliki leksikonnya sendiri, antara lain yaitu;

·         Mabul              : padi yang sudah mulai menghijau
·         Remu-remu     : Padi yang sudah mulai memiliki isinya
·         Pari sepuh       : padi yang isinya sudah muncul dan sudah dapat dilihat
·         Nyoloti             : padi yang muncul namun isinya tidak merata
·         Nulutas            : tanaman yang sudah mulai menuduk
·         Pari bongkol   : padi yang sudah siap panen
6.      Bahasa Sasak Lombok
·         Tapis         : Bulir padi kosong tidak berisi
·         Ampar       : Benih padi yang masih pada tempatnya
·         Wor           : Benih padi yang tumbuh dari pangkal padi yang telah dipotong
·         Bewet        : Sisa makanan yang masih menempel pada piring setelah makan
·         Dowong    : Benih padi yang sudah ditanam
·         Empiq        : Kerak nasi
·         Etaq-etaq   : Bulir padi yang tidak tergiling, dan masih bercampur pada beras
·         Gabah       : Bulir padi hasil panen
·         Geteq         : bulir padi yang dikupas satupersatu untuk di konsumsi langsung
·         Jami          : Batang padi kering
·         Kut kesang : Sekam, kulit gabah sisa hasil penggilingan dengan tekstur kasar
·         Sengareq   : Sisa nasi yang dikeringkan


Bab IV
Kesimpulan
Setiap bahasa memiliki leksikonnya tersendiri, bergantung pada sejarah dan pengaruh lingkungan terhadap suatu bangsa penutur. Unsur lingkungan yang memengaruhi leksikon suatu bahasa adalah lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Salah satu lingkungan fisik yang memengaruhi adalah lingkungan pertanian. Hal ini ditunjukkan oleh dua bahasa yaitu Jawa (khususnya Kudus) dan bahasa Sasak (Lombok). Kedua bahasa memiliki leksikonnya masing-masing dengan tujuan identifikasi suatu objek menjadi lebih mudah dan mendetail.
Dalam Bahasa Jawa, ada setidaknya 56 leksikon yang berbentuk kata dan 7 yang berbentuk frasa. Sedangkan dalam bahasa Sasak, ada setidaknya 17 leksikon, Semua leksikon itu berkaitan sangat erat dengan kehidupan petani karena telah menjadi bahasa sehari-hari mereka dalam mata pencaharian mereka. Oleh karena itulah, ada baiknya bagi kita untuk tetap melestarikan leksikon-leksikon tersebut sehingga tidak terhapus dari sejarah linguistic manusia. 





Bibliography

Humaini, A. (2007). Leksikon untuk Unta dalam Bahasa Arab: Kajian Etnolinguistik. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada.
Sibarani, R. (2004). Antropolinguistik. Medan: Penerbit Poda.
Tarigan, B. (2016). Kebertahanan dan Ketergeseran Leksikon Flora Bahasa Karo: Kajian Ekolinguistik. Medan: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatra Utara.
Wikipedia. (n.d.). Retrieved February 6, 2019, from Leksikon: https://kbbi.web.id/leksikon



Gimana? Bagus kan? Tapi jangan dijadiin bahan referensi buat tugas atau apa. Biar gak ngawur kayak RUU Permusikan yang sekarang lagi rame. Tau gak kenapa rame? Katanya sih mengekang kebebasan bermusik para musisi. Kok bisa gitu? Ya iyalah. Gimana gak mengekang, kalau pengin jadi musisi aja harus uji kompetensi. Hu, dasar DPR, ada aja emang. Kalau saya, sebagai penikmat seni, termasuk musik, jelas nolak hal kayak gitu. Tapi ada yang bikin lebih mangkel. Apa coba?

Sumber RUU ituloh, blogspot. Janciiiiik. Lah kok isok blog koyok ngene dijadikno sumber referensi. Kan longor yak? Saya aja kalo bikin makalah kayak yang di atas gitu gak baca blog. Wikipedia mungkin. Tapi gak ke blog juga kali. Dasar Anang. Lagu Anda tidak ada yang bagus geblek! Coba sebut lagunya Anang?

benar ku mencintaimu....tapi tak beginyot....

Ya kan? Kalo denger nama Anang pasti inget lagu itu kan?

"Gak i."

"Terus inget apa kalo denger nama Anang?"

"Ashanti."

Gacuk

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir