Review Buku Global Ethic Hans Kung
Pendahuluan
Di
zaman ini, teknologi begitu berkembang dalam berbagai lini kehidupan. Dalam
kehidupan sosial, kita mengenal teknologi komunikasi berbasis internet yang
semakin canggih, sehingga secara sdasar dapat menghubungkan dua individu dari
belahan dunia yang berbeda. Hal itu pun diikiuti oleh bidang-bidang lain:
sains, kedokteran, pangan, transportasi, informasi, dan lain sebagainya.
Kemudahan yang ditawarkan teknologi, telah mengalihkan manusia dari fitrahnya
sehingga di titik lain, tidak lagi menganggap eksistensi Tuhan. Secara sosial,
individualism juga meningkat, berbanding lurus dengan pelanggaran terhadap
norma-norma dan nilai kemanusiaan. Di sinilah, peran agama dipertanyakan.
Tidak
hanya itu. Sudah sejak lama sebenarnya agama, yang notabene adalah perintah
Tuhan, menjadi sebuah kulit yang membungkus berbagai bentuk tindakan
non-manusiawi. Di masa renaissance,
Gereja Katolik Roma di Vatikan mendeklarasikan perang merebut Tanah Suci
Yerussalem yang kemudian direspon oleh Kekhalifan Utsmani dengan adanya Perang
Salib berjilid-jilid. Di masa ini, terutama setelah kejadian 11 September yang
konon katanya –karena ini masih belum diklarifikasi hingga saat ini- merupakan
tanggung jawab kelompok Al-Qaeda , membuat citra agama terutama Islam
dipertanyakan. Apakah benar agama mewajibkan perang bagi pemeluknya? Apakah
benar agama berisi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kemanusiaan? Sepertinya
hal itulah yang Hans Kung coba untuk menjawab. Tentu saja ia mencoba menjawab
dari latar belakangnya katoliknya yang taat dan berusaha berbicara secara universal
agar agama mencapai titik kredibiltas dan vitalitasnya yang sempurna.
Bahasan
“Tidak ada perdamaian di antara
bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama. Tidak ada kedamaian di
antara agama-agama tanpa dialog antara agama-agama. Tidak ada dialog antara
agama-agama tanpa penelitian mendasar ke agama-agama."
Begitu tulis website Global Ethic Foundation mengutip kata-kata Hans Kung. Jadi
pada dasarnya, Hans Kung men coba untuk menggali nilai-nilai keagamaan yang
bersifat manusiawi dan universal: non-kekerasan, keadilan, kejujuran, dan
kemitraan.
Karena
berangkat dari studi agama, maka pertanyaan dasarnya adalah: apa itu agama?
Hans Kung menjawab bahwa agama adalah sekumpulan nilai dan cara pandang manusia
terhadap dunia serta menjadi landasan atas kehidupannya. Agama adalah ide
dasar, landasan berpikir dan berperilaku, dan lain sebagainya. Agama adalah
sistem interpretasi terhadap dunia yang mengartikulasikan pemahaman diri
dantempat serta tugas masyarakat dalam alam semesta. (Yewangoe,
2009)
Karena menjadi dasar atas segalanya, maka keberadaan agama tidak bisa lepas
dari jiwa manusia. Ia adalah kesatuan yang juga menyatukan tubuh dan jiwa
manusia.
Dari
agamalah, manusia kemudian belajar tentang etika, tentang cara berperilaku yang
mana mengatur bagaimana manusia dapat mengekspresikan keinginan dan memenuhi
kebutuhannya melalui aturan dan batasan tertentu. Setiap agama memiliki
aturannya tersendiri. Oleh karena itulah beberapa deskripsi yangmenyatakan
bahwa etika adalah aturan tentang baik dan buruk. (Bertens,
1993)
Tapi setidaknya, setiap agama memiliki satu tujuan yang sama: kehidupan manusia
yang lebih baik dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Lalu
bagaimana dengan tindakan non-manusiawi yang berlandaskan pada agama? Hans Kung
sendiri menjawab bahwa agama adalah kemanusiaan itu sendiri. Jikalau ada ajaran
agama tanpa nilai kemanusiaan, maka agama itu palsu atau salah karena telah
menyalahi cita-cita agama itu sendir: kehidupan yang lebih baik dan
berkelanjutan.
Lalu
karena semua agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, apakah semua agama itu
sama? Secara dasar ada empat pandangan mengenai keanekaragaman agama: ateistik
yang beranggapan tidak ada satupun agama yang benar, absolutistik yang
beranggapan bahwa tidak agama yang benar selain agamanya sendiri, relatifistik
yang beranggapan semua agama benar, dan inklusifistik yang beranggapan bahwa
semua agama itu benar dengan mengambil kebenaran dari agamanya sendiri.
Secara
teoristik, Hans Kung menolak keempat anggapan itu dan mengajukan metodenya
tersendiri. Ia menamakan metodenya dengan nama kritis ekumenis yang mana
menggunakan dua landasan utama, yaitu: secara personal ia menganggap bahwa
agmanya adalah yang paling benar, karena hal itu menyangkut hubungan vertikal
dengan Tuhan dan secara sosial bahwa semua agama itu sama, yakni sama-sama
mengajarkan nilai-nlai kebaikan yang mana musti diterapkan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dua landasan itu menjadikan metodenya tidak merendahkan agama
sehingga tetap beriman dan tetap menerima eksistensi dan afeksi dari agama
lain.
Pertanyaan
selanjutnya yang datang kemudian adalah bagaimana perihal orang-orang yang
tidak memeluk agama secara formal (ateis) tetapi tetap dapat berkehidupan
secara normal dan manusiawi? Apakah tanpa agama manusia tetap bisa manusiawi?
Lalu apa peran agama?
Hans
Kung berusaha menjabarkan bahwa, sebagaimana di awal, tidak ada perdamaian
tanpa perdamaian antar-agama, sehingga, agamalah yang perlu dijadikan landasan
dalam merumuskan global etik ini. Agama sudah mulai kehilangan kredibilitasnya,
karena otorisasi pemuka agama. Lalu agama juga kehilangan vitalitasnya karena
umat manusia yang lebih percaya kepada kemajuan teknologi. Belum lagi
penggunaan dalil-dalil agama demi mewujudkan kepentingan pihak tertentu. Hal
itulah yang kemudian bagi Hans Kung sangat penting.
Agama
masih konsisten dan akan terus ada di muka bumi. Ia adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri karena ranahnya yang spiritual.
Oleh karena itulah, untuk menghindari berbagai permasalahan yang berkaitan
dengan agama, seperti otorisasi, penggunaan dalil yang tidak tepat, kesalahan
interpretasi dan pemaknaan, dan lain sebagainya. Agamalah yang kemudian menjadi
alasan dan sorotan dari setiap krisis atau konflik kemanusiaan. Agama seolah
menjadi sumber dari masalah, bukan solusi.
Oleh karena itu, etika global yang
bersumber dari etika agama, dan dialog antar-agama, sangatlah penting dilakukan
dan dijadikan gagasan bersama seluruh umat manusia. Tidak ada manusia tanpa
agama, karena ateis pun meyakini adanya kekuatan yang lebih bear menaungi dan
mengatur kehidupan. Etika Global berusaha mewujudkan kehidupan beragama yang
lebih baik dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan.
Kesimpulan
Buku ini diawali dengan penuh
permasalahan, karena Hans Kung melihat kondisi pluralism yang kurang bersahabat
di seluruh dunia, bahkan di negara adidaya seperti Amerika. Tetapi Hans tidak
hanya menjabarkan masalah, tetapi juga memberikan solusi dari perspektifnya
sebagai seorang Pastur yang taat dengan gagasan etika global. Ia telah
mempelajari masalah dari struktur yang paling dasar dan menyimpulkan bahwa ada
nilai-nilai kebaikan dalam setiap agama sehingga tidak sepatutnya setiap orang
yang beragama tidak manusiawi. Baginya, kemanusiaan adalah dasar dari agama dan
setiap orang hendaknya berperilaku dengan asas kemanusiaan.
Secara umum, buku ini pantas menjadi
rujukan dasar dari pemikiran modern tentang pluralism dan multikulturalisme.
Hanya saja, sudut pandangnya sebagai seorang pastur di gereja Katolik rawan
membuat bias perspektif tersendiri. Dan kekurangan itu mampu ditutupinya dengan
nilai-nilai universal yang dia jabarkan sehingga bias perspektif itu tidak
terjadi.
Bibliography
Bertens,
K. (1993). Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kung, H.
(2004). Global Responsibility: In Search of a New World Ethic. Oregon:
Wipf & Stock Publishers.
Yewangoe, D.
A. (2009). Agama dan Kerukunan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia .


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?