Farid Krisna (Bagian Lima)

"Kenapa dia lagi?" aku berseru ke bawah. Orang-orang yang menungguku di lantai dasar terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Hingga salah seorang dari mereka menjawab:

"Karna kamu gak bunuh dia waktu itu!"

Karma namanya. Salah satu petinggi genk Surabaya. Yang juga temanku. Dan waktu telah lama mempersatukan kami hingga rasanya, dia adalah saudara sendiri. Ia menjadi bagian dari hidupku. Kami saling bergantung satu sama lain. Hingga suatu kejadian memisahkan kami. Dan itu setahun yang lalu.

Aku turun dari langit-langit gedung yang belum selesai kucat. Kota ini kota kecil, tapi entah kenapa seseorang yang kaya raya membangun gedung yang cukup besar di sini. Rumornya dia anggota DPR, tapi sebenarnya aku tak peduli. Yang penting bagiku adalah bekerja dan mendapatkan beberapa lembar uang untuk melanjutkan hidup.

"Gimana kabarmu, Ros?" Karma menyalamiku dengan erat. Aku memeluknya, berbisik, "Suruh anggotamu keluar."

Karma mengangguk dan dengan beberapa isyarat, semua anggota gengnya keluar. Dia tampak semakin sehat. Dan sepertinya tidak pernah lagi bertarung di jalanan. "Ya, kau tahu lah. Anggotaku semakin banyak dan mereka semakin ahli." Ia memulai pembicaraan dengan mengeluarkan beberapa minuman. Aku membantunya membersihkan meja yang berdebu. "Kalau kamu berniat kembali, aku bisa mengatur beberapa anggotaku dan wilayah kok."

Aku dengan cepat menggeleng. "Aku tak berniat kembali. Sama sekali." Lalu ia menawarkan minum, "Jangan-jangan kamu juga berhenti minum?"

Aku mengangguk. Dan sesuai kebiasaannya, ia menghela napas panjang dan meminumnya sendiri. "Bener kata orang-orang, Ros."

"Apa yang bener?"

"Kamu tobat."

Aku hanya tertawa kecil, mendengar ia mengucap tobat di depanku. "Orang-orang di sini baik, gak kayak di Surabaya." Aku mengeluarkan botol air mineral dari saku. "Gak mungkin kan, kalau aku ngelakuin hal yang sama."

"Oke-oke," Karma mengangguk, memahami pembelaanku. "Jadi gimana, mau ikut?"

"Ngelawan anak itu?" kataku mengulang penawaran awalnya.

"Iya"

"Tapi emang bener anak itu balik lagi?"

"He e"

"Katanya orang-orang di Bangkalan udah ngurus dia?"

"Ya, tapi dia selamat." Karma mengeluarkan foto-foto dan menyebarkannya di atas meja. "Kan kamu tau juga kalo anak itu gak ditemukan waktu dicari?"

"Ya," aku mengamati foto-foto itu. Dan aku ingat dengan jelas, bagaimana seorang anak lelaki yang lebih muda dari usiaku menyerangku dengan kecepatan penuh. Hingga penuh darah di sekujur tubuhku. "Tapi kukira dia mati."

"Entah gimana caranya, dia selamat." Karma berdiri. Ia gelisah dan berkeringat. Lalu dengan sengaja menendang beberapa perabotan yang tergeletak...

"DAN DENGAN BERANI MUNCUL DI BUNGUR, ROS!"

Aku mendekatinya, memeluknya dan memenangkan hatinya. Lalu pundakku terasa basah. Karma, seorang pimpinan geng Surabaya yang juga temanku, menangis. Ia tampak penuh dengan kekesalan. Aku sendiri tahu rasanya. Perasaan menyesal yang juga penuh dengan dendam. Kami tidak menyangka, bisa kalah oleh anak sekecil itu.

"Oke oke," kataku sembari mengelus rambutnya. "Sekarang duduk dulu, oke?"

"Tapi kamu ikut kan, Ros?" 

"Ya," jawabku menenangkannya. "Lihat aja nanti."

"Oke."

Aku kembali ke ruanganku. Sebuah ruangan kecil yang disipakan untukku karena di gedung ini hanya aku yang tidak punya tempat tinggal. Semua pekerja telah berkeluarga, atau setidaknya memiliki rumah. Dan aku mengisi kembali botol airku. Di tengah-tengah bunyi aliran air itu, aku mengingat masa lalu.

*****

Seseorang memulai perang, begitu kata seorang pimpinan keluarga cina yang menguasai Tanjung Perak. Aku yang saat itu baru memulai bisnis di jalan yang resmi, merasa hal itu biasa saja. Setiap hari bagi kami adalah hari terakhir, dan kami siap mati kapanpun yang Tuhan kehendaki. Dan ucapan orang dari keluarga cina itu hanyalah angin lalu bagiku. Kami, geng Surabaya, memutuskan untuk membantu dengan mengirim beberapa orang saja. Tentu saja itu keputusan diplomatis. Meski itu merugikan, setidaknya kami tidak mau ada kerugian ekonomis. Keluarga cina itu berpengaruh, dan akses mereka ke berbagai daerah cukup lancar.

Hingga datang berita itu. Bisnis obat mereka terbongkar. Orang-orang kami kembali dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Tak ada korban jiwa, kukatakan itu. Tapi hampi semuanya memiliki luka yang cukup parah.

Begitu pula aku.

Esoknya, Karma mencoba turun tangan. Ia berkendara sendirian tanpa seorang pun mengawalnya. Dan ia tidak berani ke lokasi. Alasannya cukup simpel: banyak wartawan dan polisi datang terlambat.
Aku merasa tidak beres. Saat kutanya siapa lawannya, Karma menjawab tidak tahu.

Hingga kabar itu sampai ke telingaku. Seorang anak menantang kami untuk pertarungan terbuka di jalanan Surabaya. Beberapa anggota kami mencoba berbicara padaku, juga pada Karma. Mereka sangat bernafsu untuk membalas dendam. Karma menolak, begitu pula aku. Karma beralasan dia taidak tahu siapa anak itu. Dan apa tujuannya. Kalau kami menjawab tantangan itu, bisa jadi kami akan kalah. Dan, setahuku, semua anggota setuju. Begitu pula dengan beberapa kawan kami di utara dan timur.

Sayangnya, kami tidak sempat memikirkan anak-anak di Bungur.

Mereka datang, menerima tawaran itu, dan membuat keramaian di jalan Ahmad Yani. Sontak saja jalanan menjadi sepi dan entah bagaimana, mereka melawan seorang anak lelaki yang datang seorang diri. Mereka bersaksi anak itu hanya datang sendiri, dan dengan berani melawan seluruh anggota Bungur yang berjumlah hampir seratus. Seseorang menelpon markas kami, dan meminta bantuan.

Karena penasaran aku datang.

Yang sama sekali tidak kusangka, pihak kepolisian datang mencoba menghentikan keributan itu. Terjadilah perang yang semakin besar dengan jangkauan yang lebih luas. Karma juga datang. Ia membawa hampir seluruh anggota markas utama. Anak-anak utara juga datang. Dan perang itu semakin menambah jumlah pesertanya, termasuk polisi.

Hingga kejadian itu datang. Kejadian yang tidak dapat aku ugkapkan. Hujan dan debu memenuhi kota. Aku berusaha mencari, di mana anak lelaki yang memulai perang itu. Tetapi yang datang kepadaku, adalah sosok dengan wajah kebencian.

Sosok itu mengayunkan pedangnya. Dan aku menangkisnya dengan sigap. Tapi, dengan sedikit senyuman, ia terus mengayunkan pedangnya menyasar tubuhku. Berkali-kali kami mengadu pedang dan suara dentingan pedang kami bersahut-sahutan. Aku sendiri merasakan beribu sengatan mengaliri tubuhku. Tanganku berdarah. Mengalir dari sekujur tubuhku yang terluka.

Dan ketika aku menyadari seluruh tubuhku berlumur darah, sosok itu menjauh, Tubuhnya yang kecil juga penuh darah. Dan ketika sengatan itu menghentak kepalaku, aku terjatuh.

"Salam kenal," katanya melewati tubuhku yang terkapar. Inilah jalanan, dan aku merasakan basah pertarungan yang sudah lama tak kurasakan saat itu. "Nama saya Krisna."
     

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir