Farid Krisna (Bagian Enam)


"Dia tidak percaya aku masih hidup, Dad."

"Oh ya? Kok bisa?"

"Iya, dia gak mau ketemu saya kemarin."

"Emang sih," aku mengambil lagi segelas kopiku dan menyeruputnya. "Aku pun aslinya gak percaya."

*****

Namaku Sadad. Aku masih berada di rumahku di Palembang ketika mendengar Farid muncul lagi. Dan tentu saja aku kaget. Bagaimana mungkin ia masih hidup? Untuk menjawab pertanyaanku, aku segera memesan tiket pesawat ke Surabaya dan mendatanginya. Menurut pengakuannya, baru saya teman sekolahnya yang bisa ditemui. Yang lain tidak bisa, katanya.

"Kenapa kamu gak percaya saya masih hidup?" Ia mengatakan itu dengan sedikit kemarahan. Ekspresi wajahnya menunujukkan itu. "Ini saya Dad, saya!"

"Iya ngerti." kataku mengelus pundaknya. Kududukkan lagi ia dan kutawarkan lagi kopinya. Ia menolak, dan selalu bilang, "Gak, gak minum kopi saya, Dad."

"Emang gimana ceritanya kamu masih hidup, Kris?" aku akhrinya menanyakan hal itu. "Berita waktu itu meyakinkan banget kalo kamu dah mati."

"Farid, Dad. Farid." dia menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke pohon di dekatnya." Nama Krisna dah dipake sama dia?"

"Oh ya?" aku mendekat dan merapikan dudukku. "Terus gimana cerita waktu itu?"

"Jadi gini," Ia bersila. Kemudian melanjutkan, "Abis kejadian di Surabaya, saya denger kalo si Agung ketangkep."

"Agung ketangkep?" aku menyela, mendengar nama adeknya disebut. "Mana bisa si Agung ketangkep?"

"Nah makanya itu saya heran, Dad. Saya telpon Agung, dia gak ngangkat. Nah, dari pada saya diem aja, takut kenapa-napa, ya udah saya berangkat aja."

"Ke Sumenep?"

"Iya, ke Sumenep."

"Terus?"

"Nah, terus. Baru sampe di sekitar... mana ya? Bangkalan atao Sampang gitu, ada yang begal. Sampe sekarang saya masih belum tahu siapa mereka tuh."

"Katanya geng Bangkalan?"

"Iya sih, katanya. Kemarin Pakdhe Rudi juga bilang gitu?"

"Lah, kamu udah ketemu Pak Rudi?"

"Ya iyalah, dia kan orang sini, lagian pakdhe sendiri."

"Oh."

"Nah, terus saya jatuh waktu itu dari motor. Kamu tau gak? Saya dapet luka parah banget di punggung sebelah kiri nih. Aduh, masya allah. Beneran sakit waktu itu, Dad."

Aku meringis mendengar ceritanya. Tapi tetap meminta dia ngelanjutin cerita.

"Tapi, untungnya, Si Krisna cepet tanggap. Waktu saya berdarah parah gitu, dia langsung keluar dan bawa saya lari ke hutan di Utara. Nah, di sanalah saya ngelanjutin hidup, Dad."

"Kamu selama ini hidup di hutan terus? Gak pernah keluar?

"Gak, gak pernah."

"Dan abis nunggu setahun, baru keluar gitu?"

"Enggak juga sih, si Krisna bilangnya saya udah kuat, gitu aja. Makanya saya yakin mau balik ke Jawa."

"Eh, waktu itu buat nyari kamu pakdhe ngirim banyak orang lho buat nyisir hutan. Kok bisa gak ketemu kamu?"

"Ya gaklah, Dad. Waktu dia ngirim orang banyak, saya dah pindah ke Selatan. Mending di pantai lagi, bisa nyari ikan."

"Hmmm..." aku berusaha mencerna ceritanya. "Terus jadinya si Agung gimana? Dia beneran ketangkep?"

"Ternyata enggak, Dad. Dia tahu beritanya duluan, makanya dia kabur."

"Alhamdulillah..."

"Nah, sekarang giliran kamu Dad."

"Giliran apa?"

"Cerita."

"Cerita apa?"

"Ya...cerita ngapain kamu sekarang."

"Sekarang? Ya nyiapin buat berangkat lah, Kris."

"Berangkat ke mana?"

"Mesir."

"Keterima kamu?"

Mendengar pertanyaannya yang bernada keraguan, aku hanya bisa menjawab, " Sana, urus tuh si Rania."

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir