Farid Krisna (Bagian Empat)
Lelaki yang dengan bodohnya menerobos hujan
Sendirian, ia melangkahkan kakinya memutari genangan-genangan di permukaan jalan. Kadang, beberapa nomor menghubunginya. Dan tak ada satu pun yang dapat ia angkat meski ia merasakan notifnya. Ia memandang langit. Awan masih lebat, angin masih kencang. Rambutnya sendiri berkibar ditiup keadaan.
Setidaknya, ini hanya hujan.
Setahun yang lalu, keadaan lebih buruk. Butiran peluru menghujani tubuhnya. Sabetan pedang berjumlah ratusan. Apapun yang datang saat itu ialah beribu ancaman atas nyawa tunggalnya. Dan yang ia lakukan, hanyalah sebuah contoh nyata dari apa yang disebut...
bunuh diri.
Lalu, entah di mana ia lupa, ia merasakan sengatan itu. Tepat di bahunya, sebuah peluru menghentikan lari kencangnya ke arah musuh. Tersentak tubuhnya dan jatuh ke tanah. Tangan kirinya dengan reflek meraba luka itu.. Tidak mungkin ia mengeluarkan peluru itu dari tubuhnya dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ia terjebak. Tak hanya hujan yang mengganggu pandangan. Tetapi juga debu-debu yang beterbangan dan mengganggu nafasnya.
Rasanya gak buruk juga, ia berkata dalam hati. Saya bisa syahid di sini.
"Berhenti, Krisna!" seseorang berteriak. Arahnya dari sebuah gedung yang mulai rusak diterjang peluru. Tampaknya sebuah toko atau warung makan, ia tak tahu. Ia kini hanya ingin berdiri dan terus berlari ke arah musuhnya.
"Saya Farid, pak!" Ia berteriak membalas seruan itu. Tapi, sebelum ia sempat beranjak, tubuhnya terasa lemas dan semuanya mendadak gelap.
*****
Dan kegelapan itu hanya melahirkan udara busuk di sekitar hidungnya.
"Sudah," sebuah suara mendekat. "Tubuhmu mencapai batasnya."
"Diem kamu!" ia membalas suara yang semakin dekat membentuk bayangan itu. "Ini tubuh saya! Saya yang paling tahu kondisi tubuh saya sendiri."
"Enggak, Rid. Darah dari pundak itu ngalir. Terus itu dalem banget lagi masuknya."
Tapi ia tak mengindahkan suara itu. Ia mencoba berjalan kembali. Tubuhnya oleng, tak dapat berdiri tegak. Rasa sakit peluru di bahu menjalar hingga kepala. Aduh, ketahuan lagi kalo keilangan banyak darah, ia bergumam. Dan ia terjatuh lagi. Di luar hujan, dan hatinya memiliki banyak genangan. Serta bau tak sedap yang mengendapi udara.
"Kasih saya sedikit kesempatan saja, Rid." Dan bayangan itu memiliki mata. Sepasang mata itu, menatap tajam tatkala memaksa. "Sebentar aja. Saya abisin semua biar cepet selesai."
"Jangan membunuh," ia kembali duduk dengan rasa sakit di bahunya masih terasa. Sepertinya memang sia-sia ia mencoba menghentikan sosok itu. "Waktunya satu menit. Lebih dari itu kamu gak boleh tinggal di sini lagi."
"Oke," sosok dengan tatapan mata yang tajam itu beranjak. "Makasih, kawan."
"Yo, sama-sama."
*****
Di detik itu, semua orang sadar apa yang sedang terjadi. Beberapa senjata tak lagi mampu bersuara di tengah keributan yang ada. Dan, andai saja kau berada di sana, pada saat itu, aku yakin kau tak ingin berada di sana.
Atau kau tak ingin Krisna menampakkan dirinya.
Karena ia adalah lelaki yang dengan bodohnya menerobos barisan musuh.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?