Farid Krisna (Awal Mula)
"Balik ke bis," katanya. "Kayaknya dompet kamu ketinggalan. Jadi saya traktir aja ya makanmu ini?"
ia berkata seperti itu sembari tersenyum. Dan... bagaimana ia bisa tahu dompetku tertinggal? aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa ia tak memperingatkanku sejak tadi? Mengapa ia baru mengatakannya setelah aku selesai makan?
"Ini pak, bayar buat mbak ini," katanya pada pemilik warung sambil memberikan beberapa lembar uang. Dan ini aneh. Penglihatanku saja yang bermasalah atau memang pemilik warung terlihat gemetaran mengambil uang darinya?
Aku menatapnya. Dan ia hanya menatapku kembali dengan senyum. Ada sesuatu di sini, pikirku.
"Gak ada apa-apa kok, Ris. Santai aja. Sana gih, balik. Kayaknya bisnya udah mau berangkat lagi."
Aku merapikan tas dan berdiri dari bangku. ia ikut mengantarku ke arah keberangkatan.
"Nanti kita kontakan ya..." katanya sambil melambai. Ia berdiri dan melambai dari jauh.
"Oke," balasku. "Jangan lupa dateng ke rumah kalo sempet!" Dan ia hanya mengacungkan jempolnya. Setelah aku duduk di kursi bis, banyak orang yang terburu-buru untuk masuk. Aku pun berdesakan dengan penumpang lainnya meskipun sudah mendapat tempat yang lumayan enak untuk menikmati perjalanan. Dan setelah bis terisi penuh - dalam arti benar-benar penuh - bis pun melaju dengan kencang. Meninggalkan Bungurasih menuju Banyuwangi
Tapi ternyata aku tak bisa menikmati perjalananku. Malam ini terlalu ramai,begitu pula dengan suasana di dalam bis. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Bisik-bisik penumpang bis memenuhi udara. Dan ketika aku berusaha bertanya pada penumpang di sampingku - seorang lelaki setengah baya dengan pakaian seadanya - ia malah balik bertanya padaku.
"Mbak yang tadi ke sini sama mas-mas itu ya?"
"Mas-mas yang mana pak?" aku bertanya balik. Ada kegelisahan yang tiba-tiba muncul di hatiku. Aku berharap firasat ini tak nyata, tapi ini pasti berkaitan dengannya.
"mas-mas yang..." bapak di sampingku itu berpikir sejenak. "Yang tadi makan sama mbak di warung rawon itu..."
"Oh iya, namanya Farid, pak" aku menjawab sejujurnya. Sambil menyebut namanya. Dan benar saja. Ketika aku menyebut namanya, bapak itu mendesah "Emang kenapa, pak?"
"Mbak gak tahu siapa anak itu?" kali ini dia berbisik. Kemudian mendekat ke telingaku
Aku semakin takut. Kegelisahan dalam hatiku semakin menjadi. Dan aku bersiap mendapat jawaban terburuk.
"Dia..."


a nice storyline 👍
BalasHapusMakasih!!! Tunggu tulisan lainnya ya. ..
Hapus