Mau Jadi Apa?


Bermula dari suatu pertanyaan sederhana, "Kemarin ada nilai yang C+ gak?"

Dari seorang teman. Seangkatan. Di beberapa mata kuliah, kami sekelas. Dan ia bertanya tentang hasil kuliah di semester yang lalu. Tidak masalah bagi saya untuk memberi tahu, apalagi cuma sekedar nilai. Tapi, dalam beberapa hal, saya tidak ingin jujur kepada orang ini.

"Ada"

" (Matkul) Apa?"

"Situ ada gak?"

"Ada"

"Apa?"

"MKI" dia menyebutkan salah satu matkul yang paling mengerikan (menakutkan, menjengkelkan, membingungkan, dll,dst, dsb) di semester satu. Ketika UAS, kami harus mengumpulkan empat review (tiga buku + satu jurnal) dan makalah penelitian individual. Bagi beberapa teman, mengerjakan semua itu butuh begadang hingga matahari terbit di kafe 24 Jam. Bagi saya, semua itu bisa selesai di pukul sembilan malam.

"Oh" aku membalas. Tapi kemudian ia bertanya kembali, matkul apa yang dapat nilai C+. "Afwan."

"Kenapa?"

""Gak ada."

"Gak ada?" aku membaca chatnya seolah ia berteriak kaget, tidak menyangka aku bisa lolos dari nilai C. "A sama B semua?" 

"Ya" jawabku. "Afwan boong"

"Oalah" katanya seolah memaklumi. "Santuy"

(Omong-omong saya benci mendengar orang ngomong 'santuy'. Itu kata yang sama sekali gak enak didengar telinga)

Selanjutnya, yang tidak saya sangka, dia menanyakan beberapa hal yang sepertinya sangat sulit saya jawab. Beberapa tahun terakhir, terutama sejak SMA, saya sudah memikirkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Apalagi sekarang umur saya sudah menginjak (MENGINJAK??? APA-APAAN UMUR DIINJAK???) 20 tahun. Dan bagi beberapa orang, pertanyaan itu sama sulitnya dengan pertanyaan filfasad. 

Tapi sebelum mengarah pada topik dari pertanyaan itu, perkenankan saya bercerita hal lain terlebih dahulu.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman kaget mengetahui umur saya yang sudah termasuk cukup tua. Tapi tua itu kan relatif, ya? Saya terlihat cukup tua karena berjenggot dan teman-teman kuliah saya masih berumur 18 atau 19 tahun. Beda dong kalau saya berada di pondok yang mana teman-teman saya malah ada yang lebih tua. Tapi lagi-lagi itu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah pertanyaan dia selanjutnya.

"Gimana rasanya sudah berumur 20 tahun?"

HEH, PERTANYAAN MACAM APA ITU?, kataku dalam hati. Emang ada bedanya umur 19 atau 20, ha? Atau umur 43 dengan 44? Gak ada, kan? Tapi apa jawaban saya?

"Biasa, tuh" saya menjawab sembari mengeluarkan nasi bungkus dan makan dengan lahap di hadapannya. "Gak ada yang berubah kok."

Oh, iya. Tentang pertanyaan apa sangat sulit saya jawab, akan saya lanjutkan di tulisan berikutnya....
  

 

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir