Mau Jadi Apa? (Bagian Dua)
lanjutan dari tulisan sebelumnya....
Jadi, ya, anda sudah tau pertanyaan macam apa yang ditanyakan oleh teman saya itu dan itu adalah salah satu pertanyaan yang sulit dijawab
"Mau jadi apa?"
Di jaman TK atau mungkin yang pernah Play Group pasti pernah ditanya pertanyaan yang serupa, hanya saja dengan redaksi yang berbeda, "Nanti kalau sudah besar, Adek Ator mau jadi apa?" atau, "Cita-citanya Adek Ator apa?". Iya, kan? dan pada masa itu kita memberi jawaban yang pakem bagi seluruh anak kecil di dunia...
Pilot, astronot, polisi, tentara, dokter, dan lain sebagainya. Gak ada tuh yang bilang bakal jadi petani, nelayan, atau tukang gali kubur, seolah-olah profesi yang itu tidak terlalu bagus dan rendahan di mata masyarakat. Tapi begitulah kita semasa kecil: dibisiki berbagai macam profesi yang menurut masyarakat bagus prstigenya dan berpenghasilan tinggi. Untungnya, semasa kecil, saya tidak banyak berbicara cita-cita. Kata orang tua, saya dulu kalo disapa atau ditanya tetangga (dengan maksud menggoda) cuma bisa mesam-mesem. Saya dulu pendiam. Dan orang yang murah senyum
Entah sekarang.
Begitu pula ketika kita memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi: SD, SMP, dan SMA. Di jenjang terakhir itu, saya mulai berpikir serius saya mau jadi apa. Profesi apa yang cocok bagi saya di kemudian hari. Di awal SMA, saya tertarik dengan geografi. Dan menurut berbagai sumber, hobi saya, membaca dan menulis dapat membantu saya menjadi ilmuwan. Ah, mungkin ini profesi yang bagus. Dan saya pun menjalani hari-hari masa SMA dengan cita-cita menjadi ilmuwan geografi. Saya pun sudah mengetahui, di universitas mana saja yang menyediakan program studi geografi. Sayang beribu sayang...
Orang tua menyuruh saya ke UB. Ke Malang. Padahal saya tak pernah berpikir akan kuliah di sini. Dan benar saja, ketika saya melihat daftar program studi yang tersedia, tidak ada geografi di sana.
Pilihan (asal-asalan) saya jatuh pada antropologi, sebuah bidang studi yang pernah saya dengar tapi tak pernah saya dalami. Dan benar saja, ketika pilihan saya dipertanyakan oleh ustadz-ustadz saya di pondok, saya hanya bisa tersenyum. Lain di bibir, lain di hati. Saya berpikir postif saja, mungkin ini pilihan saya yang terbaik, meskipun bukan sesuatu yang saya sukai. Toh, kalau tidak lolos di SBMPTN, saya masih mungkin diterima di UMPTKIN.
Dan ternyata saya diterima. Di hari pengumuman itu, saya tertawa. Beragam perasaan bercampur aduk: tidak percaya bisa lolos SBM yang mana saya hanya belajar sedikit, sedih karena diterima di bidang yang tidak saya mengerti dan lain sebagainya. Eh, tapi emang dua itu sih. Senang lolos SBM dan sedih diterima di antropologi. Ilmu apaan nih, kata saya dalam hati.
Tapi kemudian saya belajar untuk memperbarui cita-cita saya. Dan pembaruan itu belum mencapai hasilnya karena saya masih belum yakin benar, apa sarjana antropologi itu menjanjikan? Beberapa pertanyaan yang sama diajukan oleh teman-teman saya, padahal mereka sudah tau apa itu antropologi sejak masih SMA karena bidang studi ini masuk jurusan bahasa. Lah, saya? Udah pindahan dari IPS ke IPA, masih kuliahnya masuk jurusan bahasa dan budaya. Halah, bar wes. Pokok'e tak goleki sek opo cito-citoku.
Lah, terus apa jawaban saya ketika ada seorang teman yang bertanya "Mau jadi apa?"
"Balik ke pondok," saya jawab. Paling tidak, ketika sudah lulus strata satu ini, saya akan kembali ke pondok untuk mengabdi dalam jangka waktu sementara. Itulah pandangan jangka pendek saya. dan tentu saja itu adalah bentuk pengabdian dan penghormatan kepada pondok yang telah membimbing saya selama tujuh tahun terakhir.
Tapi apakah kembali ke pondok adalah cita-cita final saya? Tidak. Saya masih mencari. Apapun profesi saya nanti, yang mungkin tak pernah terpikir di saat ini, saya kan menerimanya. Selama itu baik, halal, dan sesuai dengan kemampuan saya selama ini.
yah, inilah edisi final dari judul "Mau Jadi Apa?" Sebenarnya masih ada beberapa bagian yang ingin saya tambahkan. Tapi, sebaiknya saya tulis di lain kesempatan dengan judul yang berbeda. Sekian


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?