Farid Krisna (Bagian 2)
Ketika itu, aku sedang berada di Ibukota, menghadiri rapat Koordinasi Kapolda dari seluruh provinsi di Indonesia. Semua berjalan lancar, bahkan tidak seperti rapat-rapat lain yang diagendakan, rapat Koordinasi Kapolda ini terkesan sangat amat lancar. Entah mengapa, aku merasa ada angin baik yang melingkupi seluruh anggota rapat. Hingga salah seorang ajudan masuk, dan dia adalah penjaga Ring 1 rapat ini.
"Ada apa?" tanya Kapolri pada ajudan itu. "Ini rapat terbatas yang tidak boleh diganggu"
"Keadaan darurat, pak" jawab ajudan itu. "Dari Jawa Timur"
Aku pun terhenyak. Semua anggota rapat menatap padaku. Aku pun reflek bertanya kembali pada ajudan itu, "Darurat seperti apa?"
Ajudan itu mengahampiri tempat dudukku, dan membisikkan sesuatu. Di detik itu, semua peserta rapat melihat wajahku memucat. Aku menarik tanganku dari meja dan memperbaiki posisi dudukku yang sebenarnya sudah benar. Dan dengan mengumpulkan segala keberanian, aku menginterupsi jalannya rapat.
"Mohon izin, Bapak Kapolri," kataku memulai pembicaraan setelah ajudan itu pergi ke luar ruangan rapat. "Benar-benar ada keadaan darurat."
Kapolri menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. Dan setelah beberapa detik menunggu, ia menjawab, "Melihat kredibiltasmu, aku yakin ini keputusan yang bagus buat kembali. Tapi ingat, kau sudah dua kali mengundurkan diri dari rapat, termasuk yang ini. Apa benar-benar darurat? Separah apa masalahnya?"
"Seperti setahun yang lalu, pak" aku memberanikan diri mengatakan hal itu, setahun yang lalu. Dalam suatu kasus yang sama dan semua anggota rapat mengetahui hal itu. "Dan kuusahakan kasus yang sama tidak terjadi lagi."
Di saat itulah Kapolri juga ikut tegang. Tapi ia masih sempat tertawa kecil. Begitu pula semua anggota rapat. Bagaimana aku bisa mengatakan hal itu? Aku mengutuk diriku dalam hati. Dan semua orang tahu, bagaimana tidak becusnya aku menangani kasus yang terjadi tepat setahun yang lalu.
"Jangan berjanji, Rid," Kapolri berdiri, ia mempersilahkan aku untuk kembali. "Tapi usahakan agar itu benar-benar tak terulang."
"Siap, Pak" jawabku dengan selantang mungkin. "Mohon izin undur diri"
Di luar Markas Besar, puluhan ajudanku mulai mengikuti. Hingga salah satu ajudan datang bertanya, "Sedarurat apa kondisi kali ini, pak?"
Aku berhenti. memikirkan kembali kasus setahun yang lalu: bagaimana tersulutnya, kekacauan demi kekacauan, hingga akhir yang tidak diharapkan. Aku benar-benar tak ingin semua itu terulang. Dan kutetapkan itu adalah kasus paling mengganggu karirku.
"Level B." kataku
"Level B, Pak?" ajudanku memastikan. Wah, aku baru teringat mereka belum dilatih untuk kondisi kritis di atas Level C. Meskipun jadwal untuk itu sudah lama tersusun. Dan dengan segala kebulatan tekad, kukatakan lagi "Level B. Siapkan semuanya."
"Semuanya, pak?"
"Iya, semuanya."
*****
"Di mana dia?" kutanya salah satu ajudan kantorku untuk memastikan keberadaan anak itu. dan begitu kutahu semua pegawai kantor menempatkannya di ruang darurat, aku mengomando,"Bagus. Keputusan yang bagus menempatkannya di sana. Dan tolong siapkan dua ring untuk berjaga"
"Siap, pak"
Hingga aku sampai ruangan itu, seorang anak lelaki berusia -seingatku- duapuluh satu tahun sedang duduk di atas kursi. ia sedang menunduk dan dari mulutnya aku tahu ia sedang merapal sesuatu. di hadapannya, sebuah tas ransel tergeletak di atas meja. "Tas ini tidak berbahaya?" tanyaku pada ajudan.
"Tidak, pak. Sudah diperiksa dan seperti yang lalu, bapak meminta tas itu di sini."
"Oke" balasku pada ajudan."Silahkan keluar dan pantau"
"Siap, pak" dan tepat ketika ajudanku pergi, anak lelaki itu terbangun.
"Wah, pakde."


bagus juga
BalasHapusMakasih kak!!!
Hapus