Farid Krisna (Bagian 3)


"Aku orang baru di sini, pak" kataku pada atasan yang memanggilku."Pengoperasian alat komunikasi seharusnya dioperasikan oleh yang lebih berpengalaman"

"ORANG MANA KAMU, HEH???" balas atasanku dengan bentakan. Seisi ruangan, tidak, seisi kantor, menoleh sebentar ke arah kemari sebelum akhirnya sibuk kembali. Aku sempat merasa malu dan menyesal telah menjawab dengan jawaban seperti itu. "Kita lagi kekurangan personel, nak. Ini Level B! Jangan mempersulit keadaan pake alasan kayak gitu. Oke?"

"Siap, pak" jawabku dengan menunduk.

"Nah, sekarang," atasanku memanggil senior, yang kemudian disuruhnya mengantarkanku. "Anterin anak ini ke ruangan Bos. Bilang ini rekomendasi saya."

"Siap, pak" jawab senior itu yang kemudian menoleh kepadaku. "Ayo, ikuti saya"

Kami pun pergi ke dalam kantor. Jujur, meskipun sudah sekitar beberapa bulan -sepertinya tiga- di Polda Jatim, aku tidak banyak tahu ruangan-ruangan di dalamnya. Aku terlalu sibuk berada di ruang komunikasi bantuan lalu lintas. Jadi gak terlalu banyak berkeliaran ke tempat lain. Yang kemudian kami berjalan ke arah dalam, enggak! Ini ke arah bawah tanah! Kami berjalan menuruni tangga. Di dasar, setidaknya sebagaimana yang aku lihat, ada beberapa ruangan. Salah satunya, ruangan interogasi. Dan di situlah aku melihat Bosku.

Irjen. Pol. Rudi Rahmawan. Bos panutan kami. Dia asli orang Surabaya, dan pernah ditugaskan di berbagai tempat di perbatasan sebelum akhirnya kembali ke asalnya. Perawakannya tidak terlalu besar, kuakui itu. Tapi, tidak seperti polisi senior lain, Bos Rudi tidak buncit. Ketegasannya di dalam maupun di luar kantor sangat mempesona bagi anak baru sepertiku. Setahuku, tidak ada yang berani membantah atau pun mempertanyakan setiap keputusannya - setidaknya di lingkungan anak komunikasi. Seluruh pegawai kantor sangat menghormati beliau. Inrinya, dia bos yang sangat baik dan teladan.

"Kamu masuk di sini," kata senior yang mengantarku. Ia membukakan pintu dan memberikan sedikit pengantar untuk penugasanku: bahwa aku rekomendasi atasan untuk pengoperasian alat komunikasi. Seorang senior di situ, mempersilahkan aku duduk di belakang rekorder. Aku pun duduk dan memasang headphone ke telinga. Volume rekaman kukeraskan, untuk mendengarkan interogasi seorang anak kecil (anak kecil? enggak, dia udah pemuda) oleh Bos Rudi sendiri.

*****

"Wah, pakde" kata pemuda itu memulai percakapan. "Gimana kabanya?"

"Alhamdulillah." balas Bos Rudi sembari tersenyum. Ia terlihat sedikit menggaruk kepala, kemudian berdiri dari kursinya. "Berdiri"

"Kenapa, Pakde?" tanya pemuda itu. Sepertinya ia sangat santai menghadapi Bos Rudi. Hal itu terlihat dari wajahnya yang tidak terlihat takut maupun gelisah. Mungkin karena mereka keluarga, dan pemuda itu memanggil Bos Rudi sebagai pakde-nya. Pemuda itu pun berdiri dari kursinya dengan tangan tetap terborgol di belakang. "Pakde pengin ngelepasin borgol ini?"

"Enggak," jawab Bos Rudi yang kemudian mendekati pemuda itu dan memeluknya. Aku kaget, begitu pula seorang ajudan senior di sampingku. Kulihat dengan seksama Bos Rudi memluk keponakannya dengan sangat erat. Sepertinya ia menangis. Sayang, ia memunggungi kami sehingga kami tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Ia pun duduk kembali setelah memeluk pemuda itu dan melanjutkan interogasi. "Gimana kabarmu, Krisna?"

"Farid, pakde." jawab keponakannya. Ia memperbaiki posisi duduknya sehingga terasa lebih nyaman. "Jangan pake nama Krisna, terlalu berat buatku."

"Okelah" jawab Bos Rudi. "Jadi, gimana kabarmu, Farid?"

"Baik, pakde. Baik banget" jawab pemuda itu. Ia pun menebarkan pandangan ke sekeliling "Kayaknya sekarang kondisinya lebih baik daripada setahun yang lalu, ya?"

 "Ya, pastinya." jawab Bos Rudi dengan sedikit tawa. Aku yang heran menoleh ke arah ajudan senior, berharap ia bisa memberitahuku apa yang terjadi setahun yang lalu. Tapi ia hanya menggeleng, kemudian memberi instruksi untuk tetap menyimak mereka berdua. "Banyak perbaikan di mana-mana. Apalagi setelah kejadian itu. Setidaknya radius satu kilometer dari titik ini adalah medan perang, Krisna."

"Farid, pakde," pemuda itu mengoreksi lagi. "Dan... waw? Itu wilayah yang luas banget buat berperang. Pasti semua kesulitan, kan?"

"Ya. Pastinya." Bos Rudi memesan dua gelas kopi dengan isyarat tangan dan ajudan senior yang duduk di sampingku bergerak."Makasih banget udah mau bantu di detik-detik terakhir waktu itu."

"Sama-sama, pakde" kepala pemuda itu menunduk. Tapi dari pengamatanku ia berlagak sombong. Atau mungkin perasaanku saja? "Lain kali aku akan datang lebih awal."

"Gak perlu janji, Krisna, eh, Farid," Bos Rudi menyambut dua gelas kopi yang diantarkan ke ruang interogasi. Ia juga menyuruh ajudannya untuk melepass borgol dari tangan keponakannya sebelum dipertanyakan ajudannya sendiri. "Udah lepas aja. Lagian gimana caranya dia minum kalo keborgol?"

Si ajudan pun mengalah dan melepas borgol dari pemuda itu. Kedua orang itu tertawa, baik Bos Rudi maupun keponakannya. Pemuda itu sempat berterimakasih dengan bahasa arab -sepertinya- kepada ajudan. Bos Rudi melanjutkan percakapan, "Kita, orang-orang polisi, tahu kalo kamu dateng."

"Kok bisa, pakde?" pemuda itu terlihat keheranan. Ia memajukan tempat duduknya. "Kan, waktu itu aku di Madura?"

"Ya iyalah, Kris." Bos Rudi tertawa. "Kan kamu yang mulai perang itu."

*****

Selanjutnya, tak banyak informasi penting yang kudapatkan dari interogasi itu. dan di sisnilah aku meragukan pemahamanku: Apakah yang tadi itu benar-benar interogasi? Sepertinya yang kulihat hanyalah seorang paman dengan keponakannya yang sedang reuni keluarga. Tak lebih dari itu. Lalu mengapa tadi suasana kantor seakan sedang kiamat? Apanya yang Level B?

Kombespol Ragil mendatangiku. Ia memberiku koran sambil berkata, "Nih, baca." Ia turut duduk di sampingku sambil merokok dan menyuruput kopinya yang mulai mendingin. "Aku benci mengakui ini. Tapi kehadiran anak itu memang bikin Bos Rudi harus ngaktifin Level B."

Aku mencoba membaca berita utama di koran harian Jawa Pos itu. Dan tentu saja foto-fotonya yang bombastis. Bagaimana Kota Surabaya hancur di berbagai titik yang beragam, dan dengan level kerusakan yang berbeda-beda. Aku mengamati dan membaca berbagai beritanya, tapi tak yakin. Setelah aku menoleh ke Kombespol Ragil, ia berkata.

"Iya, anak baru," Ia menyuruput kopinya hingga habis. "Yang tertulis di koran itu bohongan. Banyak penjelasannya yang belum terungkap. Tapi usaha Jawa Pos untuk terihat natural itu lumayan berhasil."

"Jadi," aku menaruh perhatian penuh kepada Kombespol Ragil. "Apa yang sebenarnya terjadi, pak?"

"Anak itu memicu perang dengan dunia gelap"
.
           

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir