Berbedanya Metabolisme Santri dan Kenyataan yang Menyulitkan Ustadz


Saya adalah seorang ustadz. Dalam arti yang sangat sederhana, yaitu mengajarkan santri-santri di pondok saya agar pintar dalam menghafal al-Qur’an dan, dalam kasus saya, turut membantu mengajarkan Bahasa Inggris di Kelas Persiapan dan IPS Terpadu K-13 di Kelas 7 SMP. Itu adalah sebagian pekerjaan saya di pondok yang telah bersedia menampung dan mendidik saya dengan berbagai cara sehingga saya lulus dari bangku SMA. Ini adalah program yang disebut tafarrugh, secara teknis berarti memperkuat hafalan Al-Qur’an. Akan tetapi, program tafarrughyang berdurasi kurang lebih sekitar satu tahun, juga mewajibkan kami para alumni untuk mengemban amanat lain berupa jabatan-jabatan struktural. Entah di asrama, maupun di sekolah. Saya sendiri, sedikit membantu dengan amanah sebagai anggota Bagian Pengembangan Bahasa-di mana saya hanya memajang nama dan jarang sekali aktif, Bagian Pengembangan Literasi SMP (BPLS) Tahfidz, dan Wali Kelas IX SMP-A. Jabatan terakhir yang saya sebut merupakan yang terberat. Bagaimana tidak? Saya musti menyiapkan diri-makan, mandi, menyetrika baju, dan lain-lain-selama satu jam yang kemudian saya diberikan waktu untuk sharing bersama santri hanya dalam waktu 15 menit! Itupun dipotong tilawatil Qur’an dan pembacaan do’a sebelum belajar yang kemudian tersisa 8 menit. Dan selama waktu tersebut, kami diwajibkan mengetahui seluruh permasalahan santri kelas yang berjumlah sekitar 30 dan belum tentu juga masuk kelas semua. Ada yang tidak masuk kelas tanpa izin, ada yang pulang tanpa izin kepada wali kelas, dan ada pula yang… pokoknya banyaklah. Oleh karena itulah, jabatan wali kelas saya sebut yang paling berat.

Selain itu, sebagai wali kelas, kita sebut 3-A saja, saya juga bertanggung jawab terhadap kelancaran program kelas 3 SMP selama semester 2-bimbingan belajar, try out, Ujian Akhir Sekolah, dan terutama, Ujian Nasional Berbasis Komputer. Oke, yang terakhir memang bukan saya yang bertanggungjawab secara langsung. Akan tetapi, kami-para wali kelas 3-memiliki nama lain yang digunakan untuk kop surat resmi: Panitia Pelaksana Program Kelas 3 (P3K3). Mungkin ada yang menyebut PPPK3, tapi saya lebih suka yang P3K3. Dan itulah beberapa amanah yang saya embandan tugas yang mesti dilakukan. Apa gunanya saya menyebut semua hal itu? Apa untungnya antum, para pembaca sekalian, mendapatkan informasi sebanyak itu?

Ya, jawabannya, kembali ke judul yang saya gunakan untuk tulisan ini. Saya sebenarnya kurang bangga ketika disebut atau dipanggil ustadz. Tetapi kebebasan bergerak yang agak leluasa dibanding santri membuat panggilan ini terasa lebih mahal. Saya sendiri memutuskan untuk terus menuntut ilmu di perguruan tinggi pondok kami yang bernama Institut Dirosat al-Islamiyah Al-Amien (IDIA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dengan program studi Perbankan Syariah. Beberapa senior saya dan juga para kyai juga tidak henti-hentinya menasihati kami –peserta program tafarrugh- untuk terus menuntut ilmu serta mengingatkan kami bahwa kami bukan hanya ustadz. Tetapi juga santri yang tidak boleh berhenti menuntut ilmu dan menerapkan apa yang disebut long life education. Bahasa ‘Arabnya: uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Artinya: tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Oleh karena itulah, saya kurang nyaman disebut ustadz dan lebih suka menyebut diri saya sebagai santri sampai mati. Santri yang terus belajar dan tidak pernah berhenti untuk menuntut ilmu.

Nah, sebagai santri sampai mati, dengan segala kesibukan yang saya sebut di paragraf awal tadi, saya-juga teman-teman sesama santri, memiliki masalah serius yang sepertinya terbentuk sejak kami menjadi santri. Yaitu metabolisme atau sistem pencernaan yang terganggu. Sederhananya, kami mudah lapar dan gampang sekali berkeringat sehingga cadangan energi kami habis. Saya, sebagai ustadz, tidak terlalu sibuk seperti santri. Tetapi, beda halnya kalau saya tetap menjadi santri dengan cara kesana kemari menuntut ilmu. Mudahnya kami lapar membuat jam makan kami berubah menjadi sangat ekstrim: Sarapan pukul 09.00, makan siang setelah tasmi’ sore pukul 17.00, dan makan malam pukul 21.00. itu adalah jam-jam lapar kami. Ketika masih menjadi santri, masalah itu mudah dipecahkan karena kantin di pondok kami sangat banyak sehingga nafsu makan mudah diredakan. Beda halnya ketika kami menjadi ustadz setelah lulus SMA atau MAK yang mana uang jajan kami berkurang drastis karena kami tidak memiliki tanggung jawab membayar kepada pondok. Tentu saja karena kami mengabdi. Selain itu, kami juga “dibayar” atau “digaji” dengan makan 3x sehari dan seperangkat alat mandi dibayar tunai sebulan sekali. Apa itu cukup. Tentu saja cukup. Tapi…tidak. Itu enggak cukup. Ha ha ha… itu enggak cukup. Benar-benar enggak cukup. Really enggak cukup. Tapi kami bersyukur. Setidaknya dengan makan 3x sehari itu tetap dapat membuat kami bersemangat menjalani hari-hari pengabdian hingga akhir.

Tetapi, kenapa penyakit ‘mudah lapar’ ini baru sekarang terdeteksi? Itu karena ketika kami menjadi santri, membeli makanan di kantin adalah hal mudah. Lain halnya dengan sekarang. Gengsi kami tiba-tiba memuncak dan tidak pernah lagi beli di kantin. Memang, ada beberapa ustadz yang tetap beli makanan di kantin, termasuk saya. Di kantin kami, variasi gorengan sangatlah lengkap. Berbagai bentuk makanan yang digoreng dengan minyak tersedia. Itulah yang membuat saya tetap setia kepada kantin. Tapi, perasaan tidak puas kami membuat kami berharapa agar jam buka dapur diubah saja.

Mengapa diubah? Bayangkan sarapan pagi yang dimulai pukul 06.00. bahkan ketika kami sudah sarapan sekalipun, kami tetap lapar di pukul 09.00 yang telah saya sebut tadi. Hal itu juga berlaku kepada jam makan siang kami di pukul 12.20 dan makan malam kami di pukul 19.30. Meski kami sudah makan kami tetap saja lapar. Beda halnya kalau kami tidak makan di dapur pada waktunya, lalu membeli nasi bungkus di luar pondok dan makan di ‘jam lapar’. Ternyata hal itu sangat aman dan kami tidak lapar. Intinya, kami musti makan di ‘jam lapar’. Kalau kami tidak makan di ‘jam lapar’, kami akan tetap kelaparan meskipun sudah makan di dapur tepat pada waktunya.

Lalu apa solusi untuk masalah metabolisme ini? Apakah kami akan mengusulkan jam buka dapur yang baru? Tentu tidak. Sarapan di pukul 09.00 ketika istirahat sekolah yang hanya 20 menit? Tidak mungkin cukup waktu itu untuk mengakomodir asatidz yang makannya liar. Makan siang setelah tasmi’ sore? Itu namanya buka puasa. Makan malam pukul 21.00? di jam segitu, semua orang sudah tidur, termasuk Bu Dapur. Lalu bagaimana?

Satu-satunya solusi yang tersisa adalah kami harus makan di ‘jam lapar’ tetapi di dapur-dapur tertentu. Di antaranya: Reggae, Madani, Pak Kumis, Barokah, Mbah Uti, Pak Tun, dan dapur-dapur lain. Tentu saja itu bukan dapur. Itu adalah nama-nama warung yang tersedia di sekitar pondok kami dan di antaranya buka 24 jam. Untungnya, jam makan kami dapat terselamatkan. Ruginya, kami harus berjuang keras mencari uang agar dapat hidup dengan ‘jam lapar’ itu. Dari sinilah kami belajar mencari uang. Kami juga belajar bagaimana kerasnya masalah kehidupan manusia jika sudah mencapai fase di mana musti mencari uang demi menghidupi perut yang meronta. Kami juga belajar banyak hal agar tidak terus-menerus bergantung kepada uang dari orang tua. Di masa tafarrugh ini, masa pengabdian ini, kami akan terus-menerus belajar agar dapat bertahan hidup ketika menginjak medan masyarakat.

Ya, alhamdulillah. Masa-masa tafarrugh ini hendak berakhir. Kami berbondong-bondong mendaftar kuliah, di luar negeri, maupun di dalam negeri. Kami memohon do’a saja, agar dapat menuntaskannya dengan khusnul khotimah, melangkah ke depan dengan lancar dan masalah metabolisme yang bngst ini segera berakhir. Amin.
SMP, 06 Maret 2018

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir