Battle Symphony: Lagu dan Pertarungan dalam Hati
Hari
di mana saya berulang tahun, saya terkejut dengan berita di koran yang
mengatakan bahwa vokalis Linkin Park, Chester Charles Bennington meninggal dunia karena bunuh
diri. Hal ini sangat mengejutkan saya karena saya adalah salah satu fans berat
band rock tersebut. Dan kehilangan vokalis adalah hal yang sangat berat karena
vokalis adalah leader- setidaknya leader vocal- di sebuah grup musik.
Kehilangan vokalis berarti kehilangan leader. Juga kehilangan ciri khas, karena
musik diketahui dari ciri khas suara vokalisnya. Dan siapa yang tidak mengenal
suara khas almarhum Chester Bennington? Semua band rock pasti mengenanya.
Meskipun mereka nantinya menemukan vokalis baru yang memiliki ciri khas suara
yang sama dan cara menyanyi yang sama, mereka akan kehilangan nyawa seni dari
karya-karya mereka.
Kekhawatiran sebanyak itu sudah menjalar dalam pikiran saya. Dan lagi, Linkin Park baru saja –di tahun 2017- merilis album baru berjudul One More Lightyang sangat laku di pasaran. Spekulasi pun muncul di berbagai media yang menyatakan bahwa lagu-lagunya adalah pesan-pesan terakhirnya sebelum bunuh diri karena depresi. Depresi? Bukankah banyak lagu rock mencerminkan perasaan depresi? Apalagi dengan suara yang mengentak-entak dan terasa memaksa. Yah, memang tidak semua sih. Tapi, apakah itu artinya almarhum Chester Bennington sudah depresi ketika menulis lagu pertamanya? Apakah ia dan teman-temannya sudah depresi ketika membentuk band itu? Apakah mereka sukses meraih berbagai penghargaan dengan perasaan depresi? Oh, ayolah. Apakah karena ia bunuh diri, kemudian banyak orang yang skeptis terhadap musik rock dan rocker?
Musik –juga musik rock dan berbagai bentuk alternatifnya- ‘terwujud’ karena cara setiap orang dalam mengekspresikan diri berbeda-beda. Mungkin kita lebih tertarik pada olahraga, atau mungkin menghafal Al-Qur’an atau pun yang lain. Tapi jangan sampai ada generalisasi yang menjustifikasi sekelompok golongan. Hanya karena ada vokalis band rock terkenal yang bunuh diri, maka banyak orang yang skeptis terhadap musik rock. Apakah jika ada penghafal Al-Qur’an yang bunuh diri lalu kita akan menyalahkan Al-Qur’an? Tidak, bukan? Maka begitulah seharusnya sikap kita dalam mengahadapi masalah seperti ini.
Tapi bukan hal itu yang hendak saya tulis untuk kali ini. Beberapa minggu yang lalu, saya tak sengaja mengecek isi laptop teman dan tak sengaja pula menemukan file lengkap lagu-lagu One More Lightdalam bentuk mp.3. Hal itu sangat membahagiakan saya dan akhirnya saya menemukan lagu paling asik di album itu. Judulnya Battle Symphony. Nah, kali ini saya akan mengulas lagu itu. Dengan sedikit pengetahuan saya tentang musik. Apalagi musik rock, sangat sedikit. Tapi, saya banyak berharap agar pengetahuan saya yang sangat sedikit ini dapat membantu siapa pun dalam memahami musik dan lebih terbuka terhadap siapa pun yang dianggap ‘berbeda dan buruk’
*****
Battle Symphony adalah salah satu lagu dalam album One More Light yang dirilis pada tahun 2017 dan menjadi urutan ke-4 dalam urutan album tersebut. Berikut lirik dan artinya;
[Verse I]
I got a long way to go
Aku
punya jalan panjang tuk dilalui
And a long memory
Dan
kenangan yang panjang
I been searching
telah
kucari
For an answer
Sebuah
jawaban
Always just out of reach
Selalu
saja keluar dari jangkauan
Blood on the floor
Darah
di lantai
Sirens repeat
Sirene
terus berbunyi
I been searching
Telah
kucari
For the courage
Keteguhan
hati
To face my enemies
Untuk
menghadapi musuh-musuhku
When they turn down
Saat
mereka meredupkan
The lights
Cahaya
[Chorus]
I hear my battle symphony
Kudengar
pertempuran simfoniku
All the world in front of me
Seluruh
dunia dihadapanku
If my armor breaks
Jika
zirahku hancur
I’ll fuse it back together
Akan
kurangkai kembali
Battle symphony
Pertempuran
simfoni
Please just don’t give up on me
Tolong
jangan menyerah padaku
And my eyes are wide
Dan
mataku
Awake
Meratapi
For my battle symphony
Demi
pertempuran simfoniku
For my battle symphony
Demi
pertempuran simfoniku
[Verse 2:]
They say that I don’t belong
Mereka
bilang aku tak termasuk
Say that I should retreat
Bilangnya
aku harus mundur
That I’m marching
Maka
aku berjajar
To the rhythm
Mengikuti
irama
Of a lonesome defeat
Dari
kesepian yang terkalahkan
But the sound of your voice
Namun
suaramu
Puts the pain in reverse
Merasakan
sakit kembali
No surrender,
Tak
menyerah,
No illusions
Tak
berkhayal
And for better and worse
Dan
untuk lebih baik ataupun lebih buruk
When they turn down
Saat
mereka meredupkan
The lights
Cahaya
[Back to Chorus]
[Bridge:]
If I fall
Jika
aku jatuh
Get knocked down
Terhempas
Pick myself up off the ground
Angkatlah
aku dari tanah
When they turn down
Saat
mereka meredupkan
The lights
cahaya
[Back to Chorus]
Nah, begitulah lirik lagu Battle Symphony dari album One More Light yang diperkenalkan Linkin
Park. Kini saatnya untuk mengulas lagu ini.
Perlu diketahui bahwa lagu ini adalah salah satu lagu yang dibuatkan Official Lyric Video-nya oleh channel resmi Linkin Park di Youtube. Hal ini mengisyaratkan bahwa lagu ini mengandung makna yang sangat dalam dan di sisi lain masyarakat pun juga menyukainya.
Lagu ini menceritakan tetang seseorang yang berusaha mencari ‘jawaban’, tapi selalu tak mendapatkannya karena berada luar daya pikirnya. Ia juga mencari ‘keberanian’ untuk mengadapi musuh-musuhnya. Pencarian jawaban dan keberanian itu beresiko sangat besar sehingga ada ‘darah di lantai’ dan ‘sirene terus berbunyi’. Di dunia ini, simbolisasi sirene selalu dikaitkan dengan polisi atau ambulans. Dan keduanya kalau disatukan maka dapat digambarkan, ’ia menghadapi suatu kasus yang berat dan perlu ditangani polisi dan ada korban yang terluka yang perlu dibawa ke rumah sakit.’ Bisa saja ia berhadapan dengan musuh yang nyata sehingga jatuh korban jiwa. Tapi bisa juga ia mencoba ntuk membunuh dirinya sendiri. Dan ketika musuh-musuhnya, nyata atau tidak, meredupkan ‘cahaya harapan’nya, ia pun mendengar pertempuran simfoninya sendiri.
Apa itu pertempuran simfoni? Simfoni secara istiah berarti komposisi musik panjang yang berpadu menjadi satu. Tapi rupanya penulis lagu ini hendak menggambarkan suatu keadaan yang abstrak, bukan keadaan yang konkrit dan nyata. Dan hal itu digambarkan dengan kesadarannya bahwa ketika ia mendengar pertempuran simfoninya, ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seluruh dunia, seluruh alam semesta yang dikenalnya. Jika ia kehilangan ‘zirah’nya, yaitu prinsip dan pegangan hidupnya selama ini, maka ia akan berusaha membangun kembali prinsipnya itu untuk bertahan hidup. Dalam pertempuran simfoni ini, ia berkata, “Tolong jangan menyerah padaku.” Kepada siapa ia mengatakan itu? Ternyata ia mengatakannya pada kekasihnya, yang ternyata masih mempercayainya dn membuat ‘mata kesadaran’nya bangun dan akhirnya tersadar dengan pertarungannya sendiri.
Dan untuk mengalahkan musuh-musuhnya di dalam pertarungan simfoni itu, ia memohon agar kekasihnya tidak pergi meninggalkannya. Ia meminta agar diberi kesempatan untuk menghadapi pertarungan simfoni itu, untuk menyelesaikan masalah hatinya selama ini, untuk menghabisi musuh-musuhnya yang berusaha mengalahkannya dengan menghancukan ‘zirah prinsip’nya selama ini.
Musuh-musuh dalam hatinya, dalam pertarungan simfoni itu berkata ia tidak termasuk orang-orang yang teguh, yang akan sukses mengahadapi maslahnya sendiri. Musuh-musuhnya berkata ia mesti menyerah dan mundur. Maka langkah-langkahnya pun ia arahkan pada ‘irama kesepian’ yang meberinya gambaran jika ia kalah dari pertempuran simfoni itu. Selain itu, ia mendengar ‘suara kekasih’nya, yang ternyata membuatnyasemakin merasakan rasa sakit akan luka lama. Tapi ia ‘tak menyerah’ hingga ia putus asa dan juga ‘tak berkhayal’ akan memenangi pertempuran simfoni itu. Ia mengambil sikap tengah akan masa depan, meskipun ia tak tahu hasil pertempuran itu membuatnya lebih baik, ataupun lebih buruk. Tapi sekali lagi ia meyakinkan, bahwa ketika musuh-musuhnya meredupkan ‘cahaya harapan’nya, ia akan kembali pada pertempuran simfoninya sendiri dan melakukan upaya yang terbaik.
Semua itu ia lakukan demi pertempuran simfoninya, demi momen di mana ia akan tawakkal pada takdir.
Dan ia tak lupa pada kelemahannya sehingga ia memohon agar ‘diangkat dari tanah.’ Ia tak ingin orang lain, bahkan kekasihnya sekalipun, untuk ikut campur dalam pertempuran simfoninya sendiri bahkan jika ia ‘terjatuh, terhempas’ kalah.
*****
Lagu ini mengingatkan kita bahwa setiap
orang, setiap manusia, memiliki pertarungan atau pertempuran yang berkecamuk
dalam hati dan pikirannya. Betapa banyak kata-kata bijak yang kita serap dan
ternyata berlainan tujuan? Hati dan pikiran kita pun mesti berjuang amat keras
demi memenangi pertempuran ini di mana kita hanya memiliki zirah berupa ajaran
agama. Tapi ajaran agama bukanlah ‘hanya.’ Ia merupakan pemberian Yang Maha
Kuasa kepada kita dengan tujuan menyelamatkan kita dari pertempuran itu.
Di zaman yang serba membingungkan ini, kita tidak dapat memfilter, mana yang benar, atau pun mana yang salah. Di sini berkata ini salah, di sana berkata ini benar. Di sini berkata halal, di sana bilang bid’ah. Kebingungan pun merancuni kita dan setan pun mengambil kesmpatan ini untuk menggiring kita ke arah yang berbeda dari kebenaran. Dalam Al-Qur’an, hal itu disebut ‘yuwaswisu fi shuduurin naas.’ Membisikkan kesesatan ke lubuk terdalam hati manusia.




Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?