Pertapa
Aku meminum air segelas lagi. Aliran dinginnya
merasuk keras hingga terasa di permukaan kerongkongan. Tentu saja, ini hari
ketiga kami tidak makan. Dan bertapa di dahan pohon bukan ide yang bagus untuk
pertapa-pertapa baru setelah masa perang. Kau tahu, kan?
Ya, aku juga tahu. Tapi kau malah menyebut nama wanita itu. Wanita yang kemarin merasuk mimpiku tanpa sapa dan izin. Menurut tafsiran Kakek Ketua, niatku belum sempurna untuk hidup selibat. Gubukku belum kering untuk musim hujan pencerahan. Memang, di jendela kiri aku membakar tanganku. Tapi di jendela kanan aku melihat wanita itu.
Ya, aku juga tahu. Tapi kau malah menyebut nama wanita itu. Wanita yang kemarin merasuk mimpiku tanpa sapa dan izin. Menurut tafsiran Kakek Ketua, niatku belum sempurna untuk hidup selibat. Gubukku belum kering untuk musim hujan pencerahan. Memang, di jendela kiri aku membakar tanganku. Tapi di jendela kanan aku melihat wanita itu.
“Apa
yang membuatmu kemari ?” tanya seorang kakek yang ternyata ketua perguruan di Desa Pertapa ini. Matanya yang tampak lemah
menatap dadaku. Untuk sesaat, kukira kancing bajuku terbuka. Tapi ketika
kulihat lagi, Kakek Ketua malah menatap mataku.
“Apa
yang membuatmu kemari ?”
“Aku
hendak mencari pengalaman.” Begitulah jawabku pada Kakek Ketua. Tanganku yang
terulur ke luar melalui jendela tepat di atas tangannya. Menurutku, prosesi ini
begitu intim sehingga aku merasa tak enak hati. Dan hatiku terperangah ketika
ia membuka mulut.
“Dan
jodoh. Bukan begitu ?” Kakek Ketua tersenyum kecil dan itu senyum yang tulus.
Rambut cokelatnya ditiup angin. Dan aku merasa angin itu merasuk hatiku dan
membawa pergi semua rahasia-rahasiaku. Aku membalas senyumnya dengan wajah
murung dan ia menghiburku.
“Kau
akan mendapatkan pengalamanmu sendiri, bocah.” Dia mengusap tanganku dan
membakarnya-dengan sebuah pemantik kecil lalu mengusap tanganku. “Kau memilih
hidup yang penuh cobaan dan mencari jodoh di dalamnya. Jangan buruk sangka.
Tapi, Tuhan akan memberimu yang terbaik.” Kakek Ketua turun dari teras rumahku
dan mungkin saja pergi ke gubuk lain. Tanganku terasa hangat setelah dibakarnya
dan itu adalah legenda di sini. Kakek Ketua memiliki pemantik dengan api yang
tak membakar. Entah apa bahan bakarnya.
“Tunggu,
Kakek !” seruku sebelum ia turun ke tanah. “Apakah kau bisa membaca isi hatiku?
Apakah itu karunia, ataukah sihir ?”
“Bukan
karunia, bocah. Apalagi sihir,” jawabnya padaku. “ Ini cuma kemampuan deduksi.
Sama seperti Sherlock Holmes.” Aku sangat yakin ia pergi dengan senyum dan
hilang dalam gelap malam.
*****
Sembari
menulis catatan di bukunya, temanku duduk di bawah pohon trembesi. Aku
membawakannya sarapan pagi kami setelah berpuasa selama seminggu berturut-turut.
Hanya ubi jalar dan kentang setengah matang. Kalau mau, aku bisa mengambil
wortel di kebun kami. Tapi Kakek Ketua melarangku. Belum terlalu besar,
katanya. Kau pasti takkan kenyang.
Oleh
karena itulah pagi ini aku hanya mengambil sebuah kentang dan dua potong ubi
jalar. Porsi yang sama juga kupersiapkan untuk temanku. Dan kini aku menunggunya
selesai menulis catatan paginya. Aku tak punya catatan seperti itu. Dan aku
pernah mengusulkan padanya agar ia punya acara TV sendiri. Mungkin dengan
judul, “Catatan Hati Seorang Pertapa’
Aku
tertawa sendiri dan menghadap langit. “Langit biru memiliki awan putihnya
sendiri.” Kata adikku yang sok filosofis. “Kalau ia ingin sedih, ia hanya
tinggal menangis dan awan menjadi hitam. Kalau ia ceria, ia juga tinggal senang
dan awan menjadi putih.”
Itu
logis. Kalau saja langit punya perasaan.
“Kenapa,
bos ?” tanya temanku sambil menepuk pundak. “Langit cerah, kok. Setidaknya
sampai minggu depan.” Dia mengambil sepotong ubi dan melahapnya.
“Berarti
besok gak hujan ?”
“Ndak.”
Jawabnya singkat. Mulutnya penuh dan ia bicara gak jelas.
“Tahu
dari mana ?”
“Pengalaman.”
Jawabnya sambil menelan. “Lihat. Suhu nanti siang pasti 43 derajat celcius dan
sekarang masih lumayan pagi. Angin pergi ke utara dan ke barat semua. Aku saja
merasakan pasir ada dalam mulutku kalau aku membuka mulut.”
Melihatku
murung, temanku bertanya. “Kau berharap hujan ?” Aku mengangguk. Dan itu salah
satu harapanku agar hidup ini terasa berbeda. Yah....hidup bertapa di desa
terpencil dekat bukit membuatku merasakan hari-hari yang sama. Dimulai dengan
bangun malam, tahujjud, subuh, dhuha,-mulai hari ini ada sarapan-, mengarungi
gunung, bertapa di salah satu pohon, kembali ke gubuk, sholat dhuhur,
mengarungi gunung lagi, bertapa, kembali lagi, sholat ashar, pergi lagi,
kembali sebelum malam, sholat maghrib, latihan malam, kemudian tidur tengah
malam. Besoknya menjalankan kegiatan yang sama dan ini sudah dua minggu.
Minggu pertama kami-para pertapa baru-
beradaptasi dengan lingkungan. Dan minggu kedua berpuasa setiap hari
berturut-turut.
Musim kemarau masih panjang, sayangnya. Dan
mungkin, hujan akan mengubah hari-hariku yang monoton.
“Pergilah ke Kakek Ketua, bos” sahut temanku
melahap lagi sepotong ubi jalar. “Beliau tahu apa saja perasaan kita dan setiap
masalah pasti ada solusinya. Aku sudah tiga kali ke gubuknya untuk bertanya apa
yang perelu kucatat dalam keseharianku. Dan...oh,iya! Kau gak mau makan? Mau
habis, nih!”
Akupun tersadar dari lamunanku dan mulai
merebut sarapan darinya. Selesai sarapan aku meninggalkan temanku sendiri bersama
catatannya dan pergi menuju gubuk Kakek Ketua.
*****
“Aku hanya punya ini.” Kakek Ketua menyodorkan
sebuah kotak kayu kusam yang segera aku bersihkan debunya. “Itu Qur’an”
Kotak kayu itu kubuka dan aku melihatnya.
Disampul dengan kardus hitam, Al-Qur’an itu tampak sangat tua. Kertasnya
kekuningan dan tampak rapuh seolah akan hancur begitu dibuka. Kulihat lembar
demi lembar dan aku sanggup mengingat beberapa surat yang pernah kuhafal dari
belakang. Kutiup kembali Al-qur’an itu itu manakala ada debu di antara
halaman-halamannya.
“Apakah Kakek menghapalnya?” Aku menghampiri
Kakek Ketua yang sibuk membetulkan barang-barangnya. Dan ketika menoleh, ia
menggeleng.
“Aku tak pernah menghapalnya, bocah” Kakek Ketua
mengambil kendi dan menuangkan air putih dalam mangkuk. “Tapi setiap kali aku
membaca basmalah, aku tak pernah berhenti merapalnya dari awal hingga akhir.”
“Merapalnya?” aku kaget.
“Ya.”
“Dari awal hingga akhir?”
“Ya.”
Mendengar keajaiban itu, aku pun bertanya, “ Dapatkah
aku melakukannya?” Kakek Ketua hanya tersenyum dan berkata. “Cobalah”
Maka, ini adalah kisah tentang seorang pertapa
nomor tujuh yang dapat mendatangkan keajaiban dan meyembuhkan manusia hanya dengan
menyentuhkan tangannya. Berbondong-bondong umat manusia datang kepadanya dengan
berbagai tujuan; minta disembuhkan, minta diberkahi, merekam keajaiban lalu
mengupload-nya di media sosial, menjadikan tempatnya lokasi wisata religi,
sampai ada yang datang untuk mencaci, menghina, mencibir, dan menghukumi kafir.
Ah, semua itu memang hanya manusia yang berbuat. Toh, Tuhan juga tak menyerupai
hati manusia yang hina. Ini hanyalah soal kisah tentang pertapa nomor tujuh
yang tertarik pada seorang wanita.
*****
-Akhir
bulan ketiga, tahun kedua aku di pertapaan
“Aku
tahu kau sudah terkenal,” kakek Ketua menuangkan teh ke dalam mangkuk. “tapi
jangan merubah apapun dari tempat ini.”
Aku
menerima mangkuknya. Ingin sekali kucurahkan semua isi hati dan fikiranku
tentang pendapatku selama ini. Sudah banyak perubahan terjadi sejak aku
menerima Al-Qur’an itu dan dapat merapalnya secara penuh pertama kali pada
purnama. Tapi aku tahu itu sia-sia. Kakek Ketua tahu apa saja hal yang ada
dalam pikiranku. Aku tak yakin ketika ia bilang bahwa itu illmu deduksi seperti
Sherlock Holmes. Ini lebih dari itu, aku yakin.
“Perubahan
itu takdir, aku tahu. Tak ada yang abdi di dunia ini selain perubahaan itu
sendiri. Tapi, lihatlah, bocah!” Kakek Ketua menunjuk ke samping gubuknya.
“Pohon trembesi itu baru dan dikirim langsung dari Istana Presiden dalam bentuk
pohon, bukan bibit!” aku ingat anak perempuan presiden yang sakit dan minta
disembuhkan. “Lalu ini. Sofa yang kau duduki ini. Aku mendapatkannya dari putra
bupati yang kau sembuhkan demamnya padahal cuma jatuh cinta.”
Lalu Kakek
Ketua membuka jendela dan pagi merasuk gubuknya. “Bukannya aku tak ingin tempat
ini berubah, bocah.” Kakek Ketua menghirup napas. “Tapi kau berhasil merubah
banyak hal dari tempat ini.”
“Berhasil?”
aku menghampirinya. “Apakah itu suatu prestasi?”
“Sudah
tentu, bocah.” Aku melihatnya tersenyum. “Kau salah satu murid terbaikku.”
“Dan kini,“ kakek Ketua menatapku. “Kau harus
kembali pada wanita itu.”
“Wanita?”
aku terheran. “Wanita yang mana?”
“Jangan
pura-pura lupa, bocah.” Kakek Ketua menggenggam kedua lenganku. “Wanita yang
tidak mampu kau sembuhkan. Wanita yang kau lihat dari jendela kanan gubukmu sedang
menangis. Mak, pergilah. Temanmu sudah menunggu untuk petualangan selanjutnya.
Tujuanmu adalah wanita itu, kan?”
Aku
tersenyum dan mengangguk. Aku benar-benar tak mampu berbohong di depan Kakek Ketua.
Ia tahu segalanya tanpa perlu aku mengucapkannya. Sudah tiga bulan dua tahun
aku tinggal pertapaannya, bertapa bersama, sholat bersama, makan bersama, dan
tentu saja, hidup bersama. Kakek Ketua
adalah pembimbing yang baik. Dan ia adalah guru sejati bagiku.
“Oh,
iya. Kakek.” Aku menoleh sebelum berangkat. “Siapa nama wanita itu, kalau aku
boleh tahu?”
“Halimah,
bocah.”
Spin Off
Hari
itu, seorang wanita mengunjungi gubuknya. Ia tahu akan banyak pengunjung datang
hari ini. Sayangnya, temannya sudah berjanji tak akan bisa menemaninya melayani
pengunjung yang datang berobat. Tapi tak apalah, katanya. Toh siang hari aku
akan pergi lagi.
Tapi
pertanda berbicara lain. Awan berbaris mengikuti arah angin dan di utara,
burung-burung gagak dari kota bermigrasi. Tak mungkin terlalu jauh, tapi cukup
untuk mengetahui di mana mangsa-mangsa kegelapan dapat dilahap. Dan itu adalah
pertanda yang diberitahukan temannya, si kutu buku. Akan ada hari di mana
matahari tak terlihat. Hari apa itu, tanyanya. Tak tahu aku, jawab temannya.
Tapi hari itu akan datang bulan ini, tak salah lagi.
Dan
benarlah itu, tapi ia tak tahu apa yang akan mungkin terjadi bilamana hari itu
datang. Tapi dalam hatinya ia siap menghadapi apapun kemungkinjan yang terjadi.
Lupakah ia hari apa itu? Tidak. Ia ingat hari itu hari Jum’at di mana ia mesti
mendengar khutbah Kakek Ketua yang berjalan dua jam lamanya. Tapi ia tak
mungkin melupakan perempuan yang datang hari itu. Wanita yang minta dirinya
disembuhkan. Wanita yang mengajukan dirinya dengan segenap jiwadan raga.
Ia lupa
nama wanita itu. Awan berbaris memberitahunya bahwa ada pertanda buruk. Tapi ia
tak menyangka bahwa datangnya dari wanita itu.
“Apakah
anda pertapa terkenal itu?” wanita itu bertanya lembut setelah duduk di lantai
gubuknya. Ia mengangguk saja dan malah mendapati wanita itu menangis. “Bisakah
anda menyembuhkan penyakit saya?”
Maka
bertanyalah ia penyakit apa yang diderita wanita itu. “Aku tak tahu,” wanita
itu menyeruput teh yang ia hidangkan. “tapi terasa sakit sekali sejak aku
melihat tanda-tandanya.”
“tanda-tanda
apakah itu?” ia turut bertanya dalam hati. Tapi suara yang tak terdengar itu
malah terjawab, “Aku melihat ular menjulur dari mulutku. Tapi tak hanya satu. Ular
itu terasa banyak dan kadang mereka terasa hendak keluar dengan sendirinya.
Kadang melalui mulut, telinga, hidung, atau melalui lubang-lubang di bawah.” Ia
tahu wanita itu berbicara dengan bahasa yang terselimuti, dan itu semakin
menambah kesan terhomatnya. Maka, ia meminta wanita itu membuktikan kata-katanya
“Sayangnya,
Tuan Pertapa,” wanita itu menunduk semakin dalam dan tak berani mengangkat
wajahnya. “Ular-ular itu malah tak dapat keluar jika disuruh. Mereka terasa
seperti anak nakal yang selalu mengerjakan hal yang terbalik dari yang
diperintahkan. Oleh karena itulah, saya tak dapat membuktikan kata-kata saya
meski saya tak berbohong. Saya yakin Tuan Pertapa memercayai saya bagaimanapun
jua.”
“Maaf,
Nona,” jawabnya membalas kata-kata wanita itu. “Tapi, sayangnya pula, saya tak
memercayai kata-kata anda dengan mudahnya. Dan kalau memeang Nona tak dapat
membuktikan penyakit Nona, saya tak bisa menerima Nona.” Ia berusaha sebaik
mungkin menyampaikan kata-katanya dengan kesan terhormat. Ia tak ingin kalah
dari wanita muda ini untuk hal seperti itu.
“Kalau
begitu Tuan Pertapa, saya pamit pulang saja,” wanita itu beranjak dari duduknya
dan pamit. “Tapi saya yakin sekali Tuan Pertapa akan berusaha mengobati
penyakit saya lagi nanti, di suatu hari.” Setelah mengucapkan salam, wanita itu
turun gunung dan pergi. cukup berani pula wanita muda itu naik-turun gunung,
gumamnya dalam hati. Tapi yakin sekali wanita itu akan intuisinya.
Karena
hari itu hari Jum’at, maka bertanyalah ia pada Kakek Ketua seusai shalat
Jum’at, sebelum berkeliling gunung. Tentu saja perihal wanita muda yang
mendatanginya pagi hari dan penyakitnya yang tak dapat dibuktikan. Seusai
mendengar deskripsi dan narasi tentang wanita itu, kakek Ketua memberitahunya.
“Tunggulah nanti malam, karena akan ada yang ingin datang lagi,” Kakek Ketua
tertawa keras setelah mengatakannya. “Aku akan memberitahumu besok pagi.”
Pada
kepergiannya dari Desa Pertapa, temannya bertannya apa yang dikatakan Kakek
Ketua. Setelah tersenyum kecil, lelaki itu kmemberi tahu temannya.
“Sebelum
ke tempat ini, kau sudah beberapa kali bekerja, bukan?” Kakek Ketua menggamit
lengannya. “Aku tahu kau pernah menjadi wartawan, guru, kuli bangunan, penjual
koran, pengamen, pengemis, dan apapun pekerjaan yang kau anggap menantang. Tapi
semua kerja itu tak memberi arti apapun padamu. Dan kini kau menjadi pertapa,
tapi sayangnya, kau benar-benar tak tahu apa yang ingin dikatakan wanita itu.”
“Memang
apa yang ingin dikatakan wanita itu?”
“wanita
itu ingin kau mengawininya, bocah.”
“Hah?”
ia berhenti dan menatap kedua bola mata Kakek Ketua lekat-lekat. “Kakek Ketua
gak bercanda, kan?”
“Tentu
saja, bocah. Aku tidak bercanda.” Kakek Ketua balas menatap matanya lebih
lekat. “Cita-citamu tercapai, bukan?”
“Dari
mana Kakek Ketua tahu?”
“Dari
puisi lama.”
Pada suatu hari nanti,
berkenalan dengan wanita
yang cantik dan menarik,
adalah suatu dosa.
Itu
karena Ayah Adam berkenalan dengan Ibu Hawa,
tetapi malah membawa bencana.
Seekor
ular ada di tengah mereka, di perut Ibu.
Dan
surat baru boleh ditulis setelah pensucian.
Sabtu-Senin, 30-1 Juli-Agustus 2016

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?