Opsi Kedatangan

Kau mungkin akan mengira, ia datang dengan sepucuk pistol Heckler dan Koch 93 dan berbicara, “Aku  sudah lama mengejarmu dan kau selalu lari. Kini aku mendapatimu menungguku dengan All of Me-nya John Legend melalui biolamu. Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang selalu kau pikirkan. Lagu-lagu kesukaanmu selalu berbeda denganku dan teman-teman lainnya. Film-filmmu juga begitu. Seleramu begitu rendah dan bodoh. Ketahuilah bahwa itu bukan alasan bagiku untuk membunuhmu. Ada berpuluh juta kejelekan yang kau lahirkan ke dunia setiap detiknya sejak kau ditakdirkan lahir di dunia. Itu juga bukan alasanku membunuhmu. Alasan sebenarnya aku mau membunuhmu karena aku ingin membunuhmu”. Lalu kau akan melihatnya menarik pelatuk dan melontarkan peluru tajam yang mungkin buatan Rusia. Bukankah kau masih berpikir bahwa Jerman dan Rusia bersahabat di belakang?
            Tapi mungkin saja ia datang dengan ‘Raven’-senapan Frock yang sering digunakan US Army di Jepang selama Perang Dunia II dan memiliki bayonet di bawah laras panjangnya-dan ia ingin melemparimu bayonetnya. Bukankah ia tahu bahwa kau suka memakai senapan itu tanpa diisi? Apakah kau tahu ia membencimu memakai senapan itu karena nama jeleknya? Frock? Ayolah! Kenapa orang Amerika tak pandai membuat nama?
            Pidatonya? Apakah dia akan melempar ‘Raven’ tanpa pidato?
Begini pidatonya,”Kita sudah lama berteman dan kau tahu bahwa kita berpisah sejak kau memakai senapan yang memiliki nama jelek itu. Aku kagum kau pandai dengan memanfaatkan bayonetnya saja. Tapi aku tak kagum kau sekejam tentara Jepang. Kita sama-sama tahu bahwa mereka serakah dan lebih kolonial dari negara Barat manapun dan kau mengikuti sifat mereka yang serakah itu. Oh….ayolah. Bayonet ini memang tajam. Dan kau tahu? Aku selalu mencoba melemparkannya sebagai mana kau melempar. Tapi tak bisa. Tak pernah bisa. Kau memang penombak hebat yang pernah ada”.
            Lalu dia pun gagal melempar si Raven dan kau membuang senapan kesayanganmu. Tapi itu bukan senapanmu. Si Raven bukan milikmu. Lalu kau membiarkan dia mencari cara lain untuk membunuhmu. Alih-alih menertawakannya. Ha ha ha…
            Tapi itu hanya bayanganmu. Itu opsi lain bagaimana proses kedatangannya. Tapi apa mungkin dia membawa Raven?
            Kau mau tertawa? Jangan!!!
            Bukankah masih keras suara biola jika kau memainkan Innocence-nya Avril? Mainkanlah. Kau tak mungkin mau hanya mendengarkan debur ombak menghantam dinding dermaga, bukan? Maka mainkanlah. Lagi pula temponya tak terlalu cepat.
            Mungkinkah dia memarahimu karena memainkan Innocence? Tak mungkin. Mugkin jika kau memakai biola. Dia ‘kan tak suka biola. Maka pidatonya, “Ayah sudah lama mengajari kita memainkan seruling. Alat itu paling baik dalam memanggil burung-burung mengerubungimu. Kau mau memanggil siapa dengan biola? Ular?”
            Apakah ayahku dan ayahnya sama?
            Iya. Kau tak tahu ayahmu?
            Aku tahu. Hanya saja….
            Hanya saja apa?
            Tidak. Tak ada apa-apa.
*****
            Apakah kau tahu ke mana air mengalir? Tuhan menentukan arahnya atau air memiliki kehendak? AKU-LAH YANG MEMILIKI KEHENDAK.
*****
            Dia tahu segalanya meski aku menyembunyikan jawaban dalam hatiku. Dia tidak baik dan juga tidak buruk. Aku ingat bagaimana teman Nabi Ilyas As mengatakan bahwa,”Tuhan itu tidak baik. Tuhan juga tidak buruk. Tuhan itu Tuhan. Terserah dia mau baik atau buruk. Segala kehendak ada pada Diri-Nya”. Nabi Ilyas As dikejar pasukan raja Israel yang menikah dengan Ratu Lebanon. Israel kafir lagi pada Tuhan. Pasukan raja Isael tak mampu mengejar Nabi Ilyas As dan ia ditakdirkan untuk mendarat di Lebanon. Cerita lengkapnya ada di The Fifth Mountain karya Paulo Coelho. Dia seorang penulis yang merasa gagal duluan sebelum sukses. Itu pengalaman yang bagus, dan nasihat yang baik; merasa gagallah, maka kau akan sukses. SETAN!
            Sebenarnya aku suka bagian di mana seorang pasukan Israel mencoba memanah Nabi Ilyas As, tapi malah mengenai temannya. Temannya yang berbicara Tuhan Baik atau Tuhan Buruk tadi. Dan pasukan Israel itu gemetaran ketika hendak memanah Nabi Ilyas As untuk kedua kalinya. Maka dia pun membiarkan Nabi Ilyas As kabur. Pasukan Israel itu juga mengakui bahwa Nabi Ilyas As adalah Utusan Tuhan. Buktinya, Nabi Ilyas As dilindungi.
            Aku ingin ketika ia-saudara kembarku itu-datang, dia langsung menembakku dengan Heckler & Koch atau ‘Raven’ Frock atau Beretta atau apapun jenis pistolnya, dan aku mampu menghindar sehingga mengenai salah seorang di belakangku. Sialnya, tak ada seorang pun ada di sekitarku. Dermaga ini sepi dan tak ada siapa-siapa. Hanya ada: 1) aku, 2) debur ombak laut, 3)  biolaku dan senarnya, 4) sepatu Diadora coklat, 5) celana hitam kecil, 6) kaus putih polos, dan 7) jaket. Siapa mau jadi sasaran tembak yang hidup selain aku?
            Oh iya. Aku lupa. Ada Tuhan. Sungguh berdosa aku melupakan Tuhan. Bukankah orang yang melupakan Tuhan akan diingat setan? Aduh, sial! Aku baru sadar Tuhan sekarang. Tapi apakah Tuhan akan jadi sasaran tembak? Dia memang Maha Hidup. Tapi apakah dia akan mati hanya dengan sebutir peluru? Lagi pula aku tak tahu jenis pistol apa yang akan dia bawa. Heckler & Koch? Tahun berapa? 2016? Dengan warna merah? ‘Raven’? Si Nama Jelek itu sudah lama berhenti. Ada yang lebih bagus meski dengan bayonet.
            Ah. Aku selalu lupa. Tuhan itu Maha Tahu
            Kau mau membawa apa, Tuhan?
*****
Tapi kedatanganku ke dermaga itu ternyata lebih mudah. Lagu terakhir yang dimainkan saudara kembarku dengan biolanya di demaga itu adalah Love Story punya Taylor Swift. Selesai ia bermain, aku datang dan ia berdiri. Dia benar-benar berdiri di tepi. Aku menembaknya dan ia jatuh ke laut.
Tuhan tak datang. Bisa saja aku yang jadi Tuhan. Bisa juga ia yang jadi Tuhan. Kami sama-sama tak tahu. Tuhan bisa baik. Tuhan juga bisa buruk. Hanya Tuhan yang tahu bahwa Dia benar-benar Tuhan. Hanya Tuhan juga yang tahu kepada siapa Dia datang.
*****
Dan benar kedatangannya ke dermaga ini lebih mudah. Selesai memainkan Love Story, aku berdiri di ujung dermaga dan ia menembakku. Aku jatuh ke laut dan mati.
Tuhan tak membelaku, juga tidak membelanya. Ia tidak hanya membela yang baik. Tapi juga membela yang buruk. Hanya Tuhan yang tahu mana yang baik, mana juga yang buruk. Hanya Tuhan yang tahu, sekiranya Dia membela Diri Sendiri dan membiarkan segalanya terjadi.
*****
Bukankah kita pernah diceritakan kisah tentang Salome, anak  perempuan Herodes dan Herodiah, yang memancing perhatian Tuhan dengan meminta kepala Nabi Yahya As? Dia berumur tujuh belas tahun saat itu dan memang sudah waktunya mencari Tuhan. Kau tak boleh menirunya dengan cara bunuh diri setelah membunuhku dan ikut terjun ke laut.
*****
Terserah aku, bodoh! Kau memang tak tahu arti diam. Biarkan saja Tuhan menerima kita di umur tujuh belas tahun ini. Kita datang kepada-Nya dengan opsi terakhir.
Dan lagi, Salome tidak kembar seperti kita.
PORSENI 2016. Jum’at.



Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir