Dalam Tidur

Dalam tidurnya, ia merindukan kembali wanita itu. Tak ada wajah, tak ada lekuk tubuh, tak ada dan tak ada deskripsi bagaimana wanita itu terbentuk. Tapi nyatanya, ia selalu merindukan wanita itu karena wanita itu kini menyebut namanya lagi dari jauh. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Karim. Hingga seribu kali lagi ditulis dan itu akan menghabiskan cerita ini hanya untuk sebuah nama yang dianggapnya lebih bodoh dari apapun. Ya, itu namanya sendiri. Tapi ia tak ingin menerima apapun penghargaan, pujian, sanjungan, pemujaan, pengidolaan, dan apapun sejenisnya untuk namanya itu. Nama itu lebih pantas, lebih agung, lebih baik, lebih, lebih, lebih, dan lebih apapun jika disematkan kepada Tuhan. Makanya ia putus asa jika wanita itu memanggil namanya lagi dengan nama itu.

Namanya Karim. Seorang lelaki biasa yang tidak memerdulikan siapapun selain dirinya sendiri. Ia tinggal di sebuah apartemen mewah di sebuah ibu kota negara yang tak ingin disebutkan namanya -ini permintaannya sendiri, barangkali ia mengajak pembaca untuk bermain teka-teki melalui kisah ini. Dan apartemennya terletak dilantai 48 -ingatlah itu, satu lantai di bawah lantai teratas. Pengelola apartemen itu pasti ingin membuat semacam smart city-smart city-an yang katanya dilengkapi dengan sekolah, universitas, tempat ibadah lima agama, toilet umum, alun-alun, kolam renang, replika tujuh keajaiban dunia, tempat bermain, departement store, dan berbagai fasilitas lain yang dijual secara terpisah. Dan Karim ini betul-betul memanfaatkan harta kedua orang tuanya untuk hidup di semacam smart city ini dengan baik. Ia tak hidup boros, berfoya-berfoya, konsumtif, hedonis, dan berlebihan layaknya orang lain. Ia pun tak peduli dan tak mau tahu apabila orang lain hidup berfoya-berfoya, konsumtif, dan hedonis sepertin selebriti di tv. Ia hanya peduli pada dirinya sendiri. Apabila ada seseorang yang jatuh dari kendaraannya dan Karim kebetulan melihatnya, maka ia akan membayar orang lain untuk membantu orang itu. Ia tak perlu menunjukkan wajah sedih, kasihan, atau iba. Itu hanya pekerjaan aktris sinetron dan film. Toh ia tak punya urusan apapun dengan televisi.

Kalian tahu repotnya orang yang malas sepertinya harus turun hanya untuk membeli bahan makanan selama sebulan? Seperti Karim inilah. Ia repot sekali. Setiap tanggal baru ia harus mandi pagi, memilih pakaian yang menurut orang pantas, memakai setumpuk parfum yang mesti diciumu satu per satu, memilih kaos kaki, memilih sepatu, mengunci kamar, dan memastikan semuanya aman. Padahal ia jarang sekali seperti itu. Ia sudah lama tak masuk kuliah dengan gelar sarjana sains di pundaknya dan tak berniat melanjutka kuliah meski punya berbagai kemampuan untuk melakukannya. Waktu, finansial, kepandaian, relasi, jaringan, dan lain-lain sudah dimilikinya. Ia hanya malas. Ya, MALAS. Betul sekali, katanya sehari-hari mengingat ia malas setengah mati jika hanya untuk bangun pagi sholat subuh. Ia hanya tak malas jika mendengar azan. Ia tak suka murka Tuhan menghiasi hari-harinya yang penuh kemalasan itu. Uh, parah sekali, katanya sambil membayangkan.

Dan ini adalah tanggal 1 Februari. Kau tahu, sebulan setelah tahun baru. Atau lebih tepatnya, sebulan sehari jika mengikuti aturan bahwa sebulan itu 30 hari. Hah, itu adalah salah satu bentuk pikiran yang terlintas di pikiran Karim agar ia bisa mengelak jika dibicarakan orang bahwa ia anti-sosial. Tapi sayangnya, Karim tak tahu bahwa masyarakat tak peduli dengan hal begituan. Pikiran tak pernah keluar jika tak diaplikasikan. Asoy. Itu barusan kata-katanya juga. Jarang lo, ia bisa berpikiran semenarik itu.

Di departement store kompleks apartemennya, ia mulai membeli barang-barang yang di perlukan. Alat mandi?, jika sudah habis atau tinggal sedikit. Alat rumah tangga?, tak ada yang rusak parah hingga harus diganti. Bahan makanan, nah ini dia! Ia mulai menjelajahi berbagai sayuran, buah-buahan, daging, jeroan, beras, tahu, tempe, ikan, telur, roti, cemilan, dan segala makanan yang ada. Setiap ujung bagian makanan sudah ia jelajahi hingga ia teringat sesuatu. Susu! Ya, SUSU! Ia hampir saja ke kasir kalau tidak teringat dengan satu hal ini. Lalu ia pun memilah-milah serta memilih susu yang enak untuknya selama sebulan ke depan. Untuk satu ini, ia tak boleh mengambil setiap jenisnya atau mengambil seenaknya. Setiap bulan susunya harus berbeda. Itu peraturannya sendiri dan entah mengapa ia menerapkan peraturan seperti itu untuk dirinya. Oh My God, apakah semua hal harus dipertanyakan?, katanya dalam hati. Toh, tak ada yang peduli dengan dirinya dan ia tak memerdulikan siapapun.

Dan di sinilah ia tersadar akan suatu hal.

Ada seseorang yang peduli dengannya. Dan ia adalah wanita itu. Yang menyebutkan namanya seribu kali ketika tidur. Meski Karim sudah lupa siapa wanita itu, ingatan Karim akan wanita itu masih ada sepucuk mengingat suara wanita itu yang begitu lembut. Oh, Karim si Orang Auditori pun hanya mengingat hal itu saja. Suara merdu. Suara merdu wanita itu. Suara merdu wanita itu yang menyebutkan namanya seribu kali tanpa henti. Ya, karena ia mengingat hal itu, ia pun segera bergegas mengambil susu pilihannya dan segera pergi ke kasir.

Sesampainya di rumah, tanpa membereskan apapun, ia langsung bergulung di kasurnya dan menutup mata. Ia berharap segera tertidur dan mendengar wanita itu menyebutkan namanya seribu kali lagi. Tapi ketika Karim melihat jam beker di kamarnya, ia lihat masih pukul 4 sore. Maka ia pun bangun saja, mengingat kembali kata-kata Rasul Saw bahwa tidur di sore hari bisa membuat gila. Sambil beranjak, ia mengambil cangkir dan mengisinya dengan nescafe. OH MY GOD, apa yang harus ku perbuat?, Jeritnya dalam hati.

Ia beranjak dari kasur dan mengambil belanjaannya tadi. Mulailah ia merapikan semua barang pada tempatnya. Kulkas, dapur, kamar, ruang tamu, dan taman belakang sudah rapi sesuai dengan seleranya. Tapi, sepertinya ada yang salah. Apa, ya?

Bisakah kau memberi tahuku, wahai wanita tanpa nama yang memanggilku ketika tidur? Bisakah?

Ya. Kudengar di sekitar sini ada banyak hantu jahat sehingga kau harusnya pergi saja ke alam lain.

Usulan yang bagus.

Ya, siapa yang paling bagus dalam hal bepergian seorang diri, tanpa memberitahukan siapapun dan apapun? Bukankah itu kamu? Maka, selesainya kamu merapikan belanjaan barumu untuk sebulan Februari ini, pergilah untuk menemuiku, wahai KARIM.

Dalam hati, Karim menggeram layaknya harimau dan ia berharap wanita itu cepat mati tanpa perlu dibunuh olehnya.

*****

Maka, tanpa mencoba secuil pun barang-barang yang sudah ia beli, ia pergi ke alam lain. Di manakah alam lain itu? Ia tak peduli. Ia tinggal berjalan saja ke tempat suara panggilan itu berasal dan nanti alam akan menuntunnya menuju alam lain, dunia paralel. Ya, itu sih sudah biasa baginya yang tak memerdulikan apapun dan dunia paralel yang jahat pasti mencari orang seperti dia. Orang-orang yang punya potensi menghancurkan dunia. Tapi sayangnya, Karim tidak seperti itu. Saking tak pedulinya ia terhadap dunia dan seisinya, Karim tak mau menghancurkan dunia andaikan diajak. Karim Cuma malas. Dan ia malas harus berurusan dengan banyak orang jika berusaha menghancurkan dunia.

Ya, ini adalah kisah seseorang lelaki yang saking malas dan tak pedulinya terhadap kehidupan, ia tak mau melakukan apapun yang tidak berhubungan dengan dirinya.   

*****

Ia melihat wanita itu dengan mata terpejam. Percayalah, ini hal yang biasa terjadi di dunia paralel. Kau tak perlu memprotes apapun kejadian yang tak ilmiah bisa terjadi. Toh, nanti akan ada orang-orang yang tau bagaimana meneliti fenomena-fenomena aneh ini meski akan sangat sulit. Mengingat, dunia paralel ini bersikap jahat pada siapapun.

Jika ada kedamaian di dunia asli, maka dunia paralel menciaptakan perang dan kehancuran-meski tidak sampai kiamat, karena itu artinya menghancurkan diri sendiri. Dan jika ada perang dan kekacauan di dunia asli, dunia paralel tak repot-repot membuat keadaan terbalik. Dan inilah yang kau hadapi di dunia paralel ini. Ketika karim menginjakkan kakinya di negara tetangga yang dilanda perang lautan, ia mulai memfokuskan telinga pada suara wanita itu. Suara wanita itu sayangnya, tampak kabur saja menit demi menit. Sial, katanya.

Ia duduk dan memandangi lautan yang telah dilewatinya. Tak perlu ada ikan yang muncul di permukaan lalu terbang menuju matahari. Sial, katanya. Tak ada yang menghibur di dunia paralel ini sehingga ia harus menunggu wanita itu tidur lalu meneriakkan namanya lebih keras lagi. Setan.

 ‘Apa kau yakin akan tidur?’, ah, wanita itu ternyata bertanya lebih dahulu. Kedatangannya di pantai itu membuat Karim sedikit kaget karena pusat kota sudah dikuasai perang. Karim telah melewati kawasan itu dan tak akan kembali lagi.

‘Kau saja yang tidur, aku nanti akan membunuhmu.’

‘Itu perintah yang buruk, Karim’, wanita itu menyulut rokoknya. ‘Aku jujur’

‘Ya. Padahal kau sudah capek-capek memerhatikanku.’ Karim meminta satu dan menyulutnya sendiri. ‘Tapi aku kasihan jika kau harus tinggal sendirian di sini’

‘Hei, sejak kapan kau punya rasa belas kasih, heh?’, wanita itu kaget dan tersentak. Ia perbaiki letak rokoknya yang jatuh dan membersihkannya kembali. ‘Lagipula aku tak butuh rasa kasihanmu’.

‘Ha ha ha..., itulah yang selalu dikatakan oleh semua wanita!’ Karim menenggak air minumnya dan kembali tertawa. Sepertinya tawanya mengganggu sekawanan burung yang bermigrasi karena perang. ‘Dan aku bertemu lagi wanita yang mengatakan hal itu!’. Tertawalah lagi Karim mengingat masa lalu yang hanya bisa diingatnya sendiri itu. Ia tak mau menceritakannya pada orang lain. Karena apa?

Karena dalam tawanya yang mengahdap ke laut itu, Karim menangis pula.

Karim tak berani menoleh ke belakang karena takut wanita itu mengetahuinya sedang menangis. Ia akan malu setengah mati kalau dia ketahuan sedang menangis. Oleh karena itulah, ia berusaha sekuat mungkin untuk tak menoleh ke belakang.

‘Kau tak perlu menoleh ke belakang,’ wanita itu duduk di sampingnya, mengambil selembar tisu dan menghapus air mata Karim. ‘Kau bukan lelakiku. Tapi aku akan selalu berusaha menghiburmu.’

‘Kau punya lelaki?’ Karim mengambil tisu itu dan mengelap matanya sendiri. ‘ Kalau begitu, kau wanita yang beruntung’

‘Oh, tidak’. Wanita itu mengelak sambil memandang lautan. ‘Lelaki itulah yang memilikiku’

Karim mengerti kata-kata wanita itu dan merasakan kesedihannya. Kini, pantai sudah dipenuhi dengan kesedihan yang amat mendalam hingga Karim lupa bahwa tujuan utamanya ke dunia paralel itu adalah membunuh wanita yang ada di depannya. Hingga keduanya sadar bahwa wanita itu telah membunuh dirinya sendiri. Karim berusaha membantu wanita itu agar tetap pada kehidupannya tapi semua terlambat.

Ya. Wanita itu menusuk jantungnya sendiri dengan pisau milik Karim.

Dan Karim, setelah bertahun-tahun lamanya tak merasakan kesedihan sedikit pun dan terkurung dalam apartemen mewah milik orangtuanya, akhirnya menangis di dada wanita itu. Burung-burung kembali terbang mendengar raungan perang dan tangisan Karim. Pantai itu semakin terasa sore harinya dengan meninggalnya wanita itu. Mungkin niat membunh Karim yang hilang malah membangkitkan depresi wanita itu hingga semakin membesar. Karim benar-benar tak bisa memberhentikan alur waktu atau mengembalikan waktu hingga satu menit sebelumnya.

Karim hanya bisa menangis dan semua tahu kalau itu sudah terlambat.

Tapi dalam kematiannya, wanita itu masih sempat bercerita. Setidaknya, akan ada peninggalan yang diberikan untuk para pembaca sekalian.

‘Aku menegetahui namamu, Karim. Ayahku memiliki nama yang sama dan kini ia malah menikahiku. Ia orang yang serakah terhadap dunia dan ini adalah dunia yang mendukung kelangsungan hidupnya sendiri’. Karim tak perlu mengiyakan atau menolak kesimpulan tersebut. Kisah adalah kisah. Dunia adalah dunia bagi siapapun yang tinggal di dalamnya. Akhirat adalah kematian selanjutnya dan kita adalah produk waktu yang tak berhenti.

‘Siapa namamu?’ tanya Karim mengingat ia belum mengetahui nama wanita itu.

‘Kau selalu melupakan nama wanita, Karim’. Wanita itu siap terbang dengan nyawanya. ‘Bahkan kau lupa nama ibumu’

‘Aku sengaja melupakannya’ Karim kini menangis semakin keras. ‘karena ia telah memberiku nama dengan nama pacarnya, Ayahmu. Dan untukmu, aku janji tak akan melupakan namamu’

‘Sebaiknya apa?’wanita itu beusaha mengulur waktu dan terjadilah. ‘Panggil aku Aufa dalam tidurmu’  

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir