Masa Siang
![]() |
Photo by Ivan Aleksic on Unsplash |
"Kamu siapa?"
Laki-laki itu terdiam di belakang pintu. Tangannya masih memegang gagang besi yang dingin karena hendak menutupnya, namun tak jadi karena ia melihat sosok lain di kamar hotel. Dengan mata terbuka, ia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang ia lakukan sejak pagi. Datang di kota ini dini hari, sembahyang subuh di stasiun, sarapan di warung pinggir jalan, bertemu seorang teman di sekolah lama, menghabiskan waktu hingga sore hari. Ia sama sekali tidak ingat memiliki janji bertemu dengan wanita di kamarnya. Teman yang ia temui tadi yang memesankan kamar ini untuknya. Karena itulah ia merogoh saku kanan untuk menelpon.
"Kau hendak menelpon Iwan?" wanita itu beranjak dari kursi di depan televisi. Layarnya dipenuhi dengan warna-warni acara ragam dan gelak tawa buatan. Laki-laki itu kemudian mundur untuk membuka kembali pintu dan melangkah keluar. Namun wanita itu bergerak lebih sigap. Ditahannya si lelaki untuk kemudian terdorong hingga ke dinding. Lelaki itu meringis sakit karena punggung bawahnya menabrak gagang pintu lemari. Wanita itu mendekat dengan napas yang terdengar lebih keras. "Kau seharusnya langsung mengenaliku, bukannya bertanya."
"Aku tidak ingat. Pernahkah kita bertemu sebelumnya? Apakah kau mengenalku?" Suara lelaki itu semakin kecil. Ada rasa takut menguar dari tubuhnya, membuatnya semakin terdorong ke belakang. Kalau saja lebih kuat, wanita itu akan merusak pintu lemari dengan tubuhnya. Keduanya kini berdekatan tanpa jarak, si lelaki bisa mencium dengan jelas wangi rambut yang masih basah. "Apakah kau baru saja mandi? Apakah pemanas airnya berfungsi?"
Wanita itu mundur. Ia memberikan ruang untuk si lelaki dan kembali duduk di kursi. Sebuah gelas dengan cairan kuning ia minum. "Ini jeruk, kalau kau mau tau. Aku memesannya lewat layanan kamar. Jadi, tolong bayari ini." Lelaki itu masih takut, langkahnya masih ragu-ragu. Ditaruhnya ransel yang menemaninya sejak berangkat pergi ke kota ini. Dikeluarkannya sebotol air dan meminumnya sampai habis.
"Apa maumu?" Lelaki itu akhirnya bersuara. Wanita itu masih tak percaya ia mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang menurutnya tak masuk akal, dan akhirnya tertawa. Lelaki itu duduk di pinggir kasur, mencoba menyelamatkan diri dengan bersikap lebih santai. "Kamu masih tidak menjawabku untuk pertanyaan pertama tadi, jadi jawab saja siapa dirimu."
"Aku pencabut mimpi."
*****
Wanita itu akhirnya bercerita lebih banyak. Sebagai pembuka, ia bertanya apakah aku tertarik padanya dalam pandangan pertama. "Secara umum kau cantik." kubuka ransel di lemari, mengambil beberapa lembar kertas dan sebuah pensil, untuk kemudian memulai sketsa yang wanita itu pesan. "Matamu tajam di pinggir, lingkarannya sempurna. Garis wajahmu juga tegas walaupun pipimu sedikit tembam. Apa kau suka makan?" Dia tertawa ringan, seolah-olah mengabaikan pertanyaan logis itu.
"Kau tahu aku hanya arwah dalam mimpimu." Kedua tangannya bersilang di depan dada, begitu pula kakinya untuk menyingkap paha mulus kecoklatan di balik gaun merah terang. "Aku hanya hadir sesuai dengan bayanganmu, dan aku berusaha keras untuk ini. Kalaupun ini tidak sesuai, katakan saja."
"Tidak, tidak," aku bergegas menjawab, agar ia tak salah paham denganku. "Kalau ini upaya terbaikmu, maka ini sudah cukup bagiku."
"Apakah ini wajah seseorang yang selalu kau ingat?" Wanita itu menoleh ke cermin, memerhatikan bayangan wajahnya yang stabil. Sebelumnya, ia terlihat terus-menerus memperbaikinya, seolah-olah daging atau kulitnya adalah tanah liat yang belum terbakar. "Aku bukannya tidak yakin, tapi dalam bayanganmu wanita itu selalu memakai kerudung hitam. Warna apa yang seharusnya kupakai untuk rambutnya?"
"Aku suka merah." dan seketika warna rambutnya berubah. Ia kembali menatapku yang sibuk menyusun garis demi garis. Pencabut mimpi ini tampaknya senang membantu. Ia menarik imajinasiku yang terkubur selama ini agar terlihat nyata. Sesosok wanita idaman hadir di hadapanku, dan untuk sesaat aku lupa bahwa ia adalah hantu. Dan ketika aku menyelesaikan gambar itu, ia menghilang bersama jendela yang terhempas karena kencangnya angin malam.
*****
"Benarkah?" seorang teman memberi ekspresi kaget yang luar biasa ketika kau rampung menceritakan pertemuanmu dengan hantu hotel itu. "Bagaimana wujudnya? Apakah ia melakukan hal buruk padamu?" Kau menggeleng. Kau menjawab pula bahwa kau tidak terluka, bahwa hantu itu hanya muncul sebagai imajinasi tentang wanita cantik yang mendekam dalam pikiranmu. Tapi jawaban jelasmumu tetap tidak menghentikan temanmu itu dari pertanyaan-pertanyaan lain terhadap hal-hal tak masuk akal lainnya.
"Maaf aku baru menghubungimu." Kau memindahkan laptop dari meja ke kasur, agar kau lebih nyaman ketika mengobrol dengan temanmu melalui konferensi video. Untung saja, temanmu itu masih terbangun meskipun ini menjelang tengah malam, dan kau masih tidak bisa melupakan sosok sempurna hantu itu. "Sedari tadi aku masih terbayang-bayang bagaimana mungkin ia tahu wanita idamanku. Tapi aku lebih penasaran lagi siapa sebenarnya yang aku bayangkan dalam pikiran gelapku."
"Bukankah kau masih mengingatnya?" Temanmu itu sejak awal berbicara denganmu sambil berbaring, namun akhirnya terbangun karena penasaran. "Wanita yang selalu kau sebut memiliki mata indah, dan akan selalu kau ingat karena hanya dia yang selalu membuatmu terkesan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu dengannya, walau sedetik saja, kau akan segera datang, bahkan ketika wanita itu tidak memintamu datang."
"Siapa dia, Wan?" Kau ikut penasaran, mengingat-ingat siapa saja wanita yang selama ini kau kagumi. Kau dengan pelan menyebut nama-nama indah, sekaligus melipat jari satu per satu dari kelingking hingga kelingkin lainnya. "Bukan, bukan mereka. Aku ingat wajah dari setiap wanita yang kutemui, apalagi ketika mereka memancarkan kecantikan tertentu. Aku ingat postur tubuh mereka, cara mereka berjalan, pakaian apa yang selalu menjadi ciri khas, dan tentu saja senyum dari setiapnya."
"Namun kau tak bisa mengingat senyum siapa yang hadir tadi malam," Iwan memberikan tebakan.
"Benar!" Matamu semakin melebar. Kau sama sekali tidak minum kopi karena lambungmu yang lemah, tapi rasa kantuk segera pergi ketika rasa penasaran muncul. Apalagi, teman lamamu itu setuju. "Kau ternyata cukup dekat denganku hingga tau kebiasaanku selama ini. Aku memang pecinta wanita, seperti katamu tadi pagi." Kau dan temanmu itu kemudian tertawa memecah udara kota yang selama malam ini seperti dibungkus angin sepi.
"Dan ketika kau dilabeli sebagai pecinta wanita," temanmu itu segera berbicara ketika kau masih tertawa, "aku datang sebagai pencabut mimpi."
"Hah?" kau terdiam. Ada orang lain yang menyebut dirinya pencabut mimpi. Seketika kau merasa canggung berhadapan dengan laptop yang menampilkan wajah temanmu itu. "Apa maksudmu? Apa arti pencabut mimpi itu?"
"Kau tahu, Ram." Wajah temanmu tersenyum ringan, seolah-olah mengatakan hal biasa seperti mengajak sarapan atau menawarkan air minum kepada tetangga. "Kami semua pencabut mimpi. Kami semua mencabut mimpi dalam kepalamu."
*****
Matahari terbit dari arah yang tak tentu. Kalau dari sejarah, dia muncul dari Timur. Tapi itu kata-kata masa lalu. Bumi tak lagi sama sejak perang bom hidrogen yang menghancurkan planet dan mengubah bumi menjadi semesta baru. Ribuan orang mati dan hanya satu persen dari populasi dunia yang bertahan setelah perang itu. Setiap malam, dia harus menutup seluruh wajah dengan topeng plastik untuk menghindari kabut beracun yang berbahaya bagi mata dan organ dalam. Saat ini, ia harus mencabut kabel-kabel dari kepalanya. Mesin portabel yang ia bawa sepertinya sudah hampir rusak karena selalu memunculkan sosok-sosok yang sama.
Pencabut mimpi. Pencabut mimpi, apanya? Mereka hanya mengganggu malam-malamku yang indah dengan proyeksi masa lalu. Ia kemudian berharap dapat bertemu dengan penjual-penjual mimpi baru, agar persediaan mimpi masa lalunya tersedia. Beberapa kaleng soda diambilnya dari meja, ia habiskan hingga titik terakhir karena sejak matahari tenggelam ia tidak bisa membuka mulut sama sekali. Ia menoleh ke arah matahari, memandangi alam liar masa kini.
Ruangan itu, tetap sama seperti tadi malam, hanya saja lebih berantakan: televisi miring, meja jatuh, kasur berlubang, dan pintu seng terbuka ke lorong. Ia mengingat hotel ini sebagai bagian dari sejarahnya, karena di gedung inilah ia melangsungkan pernikahan. Kota ini juga penuh dengan kenangan. Namun lagi-lagi ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Ia butuh cairan pengingat agar malam-malamnya lebih hidup dengan mimpi-mimpi indah.
Untuk itulah ia segera bangun dan bergegas, agar tak melewatkan sedikitpun detik-detik masa siang.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?