Kuliah Minggu Pertama dan Rumitnya Mempelajari Negeri Suriah

Ah, bismillah. Akhirnya saya punya sedikit semangat untuk menulis ini.

Kamis lalu, sebelum memberikan pertanyaan dalam mata kuliah Antropologi Hukum, Pak Manggala meminta saya menyalakan kamera. "Maaf pak, saya tidak bisa menyalakan kamera untuk saat ini karena sedang berada di pengungsian." kilah saya saat itu. Setelah saya bertanya tentang pengantar mata kuliah yang beliau berikan, Pak Manggala menanyakan saya kembali apa yang telah terjadi sehingga saya tidak bisa berada di rumah. Teman-teman seangkatan mungkin tak menganggap ini serius, mengingat saya yang memang selalu bercanda, bahkan dalam kelas online sekalipun. Namun ini serius. Saya berniat menceritakannya meskipun tidak ada satu pun yang memintanya.

Faktanya, saya diusir dari rumah.

Tidak. Tidak ada bencana atau kejadian buruk di rumah. Rumah saya tidak terbakar, terendam banjir, atau terkikis karena longsor. Rumah saya baik-baik saja. Dalamnya yang tidak. Keluarga saya cukup rumit. Banyak konflik terjadi di dalamnya, dan sebagai anggota yang paling belia, mudah bagi saya untuk berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Hubungan ibu dan kakak saya buruk. Hubungan saya dan kakak akhirnya juga ikut memburuk. Baru-baru ini saya memutuskan untuk pulang karena saya terlalu depresi untuk tetap di Malang. Banyak kenangan indah menjadi buruk manakala saya berusaha mengingatnya. Dan karena saya sudah cukup berusaha (dan putus asa), alangkah baiknya saya kembali ke rumah sebelum saya melakukan hal yang buruk bahkan bagi diri saya sendiri.

Dan sayangnya, rumah saya juga tidak baik-baik saja. 

Pada suatu waktu, karena kejadian yang cukup mengagetkan, kakak saya bertanya kapan saya kembali pergi ke Malang. Hah? Langka sekali, pikir saya. Sebagai orang yang paling kerasan di perantauan, saya selalu diminta pulang. Bahkan ketika Covid-19 pertama kali mewabah, saya musti dipaksa. Kenapa saat ini saya merasa terusir? Dan memang benar, pertanyaan kakak saya itu memang diajukan dengan niat yang tidak baik. Oleh karena itulah saya memutuskan pergi. Sejak Senin malam, saya sudah menginap di rumah salah satu sepupu yang sudah berkeluarga.

*****

Lalu kenapa saya tidak menyalakan kamera di kelas Antropologi Hukum? Sepertinya memang tidak bisa. Wajah saya tampak terlalu menyedihkan, sehingga saya tidak cukup berani untuk menampakkannya di kelas. Oleh karena itulah di kelas lainnya, saya memakai masker, meredupkan pencahayaan menjadi sedikit gelap. Tidak, itu bukan tidak sengaja. Saya benar-benar mengaturnya agar kesedihan saya itu tidak tampak.

Untungnya, kehidupan di pengungsian ini cukup baik. Saya menjalani kehidupan perkuliahan yang normal dan tidak terganggu khususnya ketika zooming. Hanya kelas Tubuh, Gender dan Seksualitas (dijadwalkan pada Jum'at pukul tujuh pagi) yang tidak bisa saya hadiri karena tertidur. Pengalaman ini, bisa dibilang deja vu. Seolah-olah saya mengulangi hal yang sama di semester genap tahun lalu: dengan sengaja tidak menghadiri minggu pertama perkuliahan karena menghadiri pernikahan seorang teman. Saya tertawa mengingatnya.

Oh, iya. Saya juga masih sempat belajar tentang Suriah, salah satu negara muslim dalam kajian sejarah konstitusi. Jika sebelumnya saya mendalami sejarah negaranya secara khusus, pekan keenam ini cukup sibuk dengan mengkaji empat negara sekaligus: Iraq, Suriah, Lebanon, dan Jordan. Berbagai aspek saya baca termasuk tentang pengungsi Palestina, keberadaan ISIS atau yang biasanya disebut orang Arab dan Barat sebagai Daesh, dan penjajahan terang-terangan alias okupasi Amerika di Iraq. Empat negara ini juga berbagi sejarah yang sama, karena dijajah Inggris dan Prancis. Lebih lengkapnya, kalian bisa ikut belajar di Coursera. Kalau mau linknya chat saja.

Yah, setidaknya dua cerita itu yang bisa saya bagi saat ini. Oh, iya. Blog ini juga hendak berbagi tulisan yang sudah disiapkan oleh teman-teman saya. Nanti kalian bisa membacanya dan berbagi kalau memang cukup bernilai untuk dibagikan. Selamat malam.


Komentar