Kata yang Timbul dari Kamus Alfalink
![]() |
Photo by kristin todorova on Unsplash |
Oleh: Jefni Rawandi*
Tidak tau, puisi atau prosa, esai atau kritik sastra, tapi aku ingin menuliskannya untuk pemesan yang berbahagia. Sekarang bahasa akan diculik ke dalam tas ransel yang besar, seperti merk Eiger. Pagi ini aku hanya menyuplai kantuk yang terpupuk, lebih baru dibanding yang kemarin. Tulisanku tak menemukan tipe, untuk dipertahankan juga seperti derita kecil yang tak dimengerti. Panggilan-panggilan full dari kontak tak bernama. Hari ini serta kemarin, kita hanya perlu berkeramas dengan air hangat. Tetap gelap kondisinya, masih dalam kendali pancaroba. Aku menghitung berapa kali aku bisa makan nasi dengan daging atau telur mata sapi. Semua sapi, kupikir. Hehehe.
Selagi senang berinteraksi aku coba mematikan data seharian, bangun dari lamun dan menganalisa realita, sebab aku juga suka bercerita. Kemarin begini, sekarang begitu, besok ya diam. Belum ada mekanisme untuk rutin membahas hal yang kekinian. Hah, tulisan cap apa ini, kok menyebalkan. Profesor dan Dosen tidak tau perasaanku, sebagai Masterpiece budidaya kangen kampus, mampus, belum lulus-lulus. Hei, pembaca blog, kamu mengharap apa sih, sebenarnya dari para penulis? Gabut kan? Jujur saja, hidupmu seperti olesan minyak Cap Lang, sekali pakai langsung dibuang. Kau tau? Sejak semua tempat dilockdown aku itu pusing. Kemana-mana harus cari yang liar timbang yang dilindungi. Yang liar belum tentu menjamin kebutuhan, dan aku hanya berpetualang sendirian. Bahaya, sepertinya kota mati akan terwujudkan perlahan di negeri kita. Kamu sih, buta dan tuli. Kamu sih, sukanya tebar janji. Lagian otakmu itu sepertinya terbuat dari daging gajih gajah, deh. Entah ah, ya, heran.
Begini saja, aku mau kamu bebas saja. Seperti si Em Top. Anggota kelasku. Sebenarnya dia rajin, tapi karena tertekan jadi super malas, sekarang. Aku bukan berdiri untuk melawak, cobalah menerka dengan serius ada apa di depan nanti. Lagipula kata-kata hanya berhak diproduksi oleh kamus, lalu bagaimana yang tak tercantum di dalamnya, dan itu berupa bunyi? Kaum elit juga masih suka makan es krim. Makan atau minum, sebenarnya? Lupakan. Waktu mengempis di dada, kalimat kian berpamitan, menyerah untuk dikonstruksi kembali bersama penyumbang disini. Sudahlah, kalian tidur saja. Semua sama apabila saling kerja sama.
Prenduan, 15.02.21
*Puisi ini merupakan sumbangan dari kakak kelas sekaligus ustadz saya di pondok, yang masih aktif dalam dunia sastra dan sekitarnya. Saya memesan satu-dua tulisannya agar blog ini tetap ramai pembaca.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?