Maukah Kau Mendengar Ceritaku?


Photo by Lorenzo Lamonica on Unsplash

Ga banyak kok. Cuma beberapa aja.

Jadi, sejak beberapa bulan terakhir, aku merasa begitu sedih. Ya. Sedih. Aku merasakan banyak sekali kesedihan, meskipun tidak menangis. Entah kenapa, kesedihan itu selalu datang setiap sore hari. Hal itu membuatku lebih nyaman berada di kasur, malas-malasan, dan menunda sholat ashar hingga pukul empat atau lima sore. Aku ingin sekali bertanya kepada teman-teman, namun aku sendiri telah memutus hubungan dengan banyak orang. Aku tidak yakin akan ada yang mendengarkan. Apalagi ini cerita kesedihan yang tidak cukup jelas. Pada akhirnya semuanya berujung pada kesia-siaan.

Untuk mengatasi kesedihan itu, aku berusaha menyibukkan diri, sama seperti yang dilakukan orang lain. Aku mendaftar magang semester ini, berusaha mendapatkan tempat yang lebih bagus namun gagal dan rasanya lebih menyedihkan. Aku berhasil menyelesaikan target pribadi dalam kursus online, namun tidak cukup membantu. Aku menulis blog ini sebagai bagian dari kesedihan itu. Meskipun tidak berada di kamar, perasaan di dalam hati ini sama saja. Pundakku terasa sangat berat. Ada air mata yang tertahan atau mungkin kelenjar air mataku sudah kering, aku sendiri tidak yakin. Aku merasa, hal ini tidak baik untuk dilanjutkan.

*****

Apakah aku bisa menceritakan hal seperti ini kepadamu? Bisa saja. Namun, pantaskah? Rasanya tidak. Kau begitu senang dengan hari-harimu dan sibuk dengan berbagai pekerjaan, ketika aku hanya menganggur dan tidak melakukan apapun. Ada ganjalan di dalam hati, jadi aku tidak berniat melompatinya lalu mendatangimu dengan rasa percaya diri. Hendaknya kubiarkan saja diriku mati dalam dekapan selimut di musim dingin. Seekor pencabut nyawa menungguku di sisi lain.

Komentar