5 Sisi Positif Gilang Bungkus yang Tidak Saya Miliki
Saya berniat mengobrol dengan Dek Ana melalui telepon atau chat -akhir-akhir ini dia yang sering minta duluan, sebagaimana keseharian pacaran kami. Namun, malam itu dia sudah terlalu capek. Ia mengerjakan berbagai project dari pagi sampai siang hari, dilanjut dengan mengaji pada sore hingga malam lalu duduk di depan laptop lagi. Ia bilang akan tidur duluan, dan akhirnya malam itu saya punya kesempatan untuk menelusuri media sosial, melihat apa yang sedang ramai dan banyak dibicarakan.
Malam itu malam jum'at, dan wajar jika ada satu-dua twit berisi kisah horor.
Namun yang saya temukan saat itu bukanlah kisah hantu. Kalian sudah bisa menduganya: seorang mahasiswa fakultas ilmu budaya di salah satu PTN di Surabaya dikisahkan memiliki proyek penelitian yang ternyata adalah modus untuk melakukan pelecehan seksual. Namanya Gilang Eizan. Saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan kasusnya hingga saat ini. Beberapa thread menyatakan bahwa kelakuan bejatnya itu sudah lama tersebar di internal kampus, namun masih ditutupi. Saat viral seperti ini, bahkan citra kampus sekalipun masyarakat tidak peduli.
Namun apa yang saya baca, utas pertama yang menjelaskan kisah Gilang itu menjadi kisah horor tersendiri. Orang-orang di zaman posmodernisme saat ini mengembangkan kemampuan berempati. Artinya, ketika mendengar atau membaca kisah Gilang kita akan selalu mencoba merasakan bagaimana pahitnya menjadi korban. Dan itulah yang kemudian mengundang rasa muak. Kenapa baru sekarang? Kenapa ia baru terkenal padahal kejahatannya dimulai sejak lama?
Dan esoknya kisah-kisah yang serupa terungkap. Korban Gilang yang bungkus-able tidak cuma satu atau dua. Ia beraksi di kampusnya, lalu meluas di sekitar Surabaya. Ia mengincar adik tingkat dan orang tak dikenal. Ketika kelakuannya dilaporkan ke pihak kampus, ia hanya diminta untuk membuat pernyataan tidak akan mengulanginya kembali dan meminta maaf. Namun hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia melebarkan sayap ke kota lain seperti Malang bahkan beda provinsi seperti Semarang.
Saya tidak tahu banyak profilnya. Ia diperkirakan asli dari Kalimantan. Akun instagramnya menghapus sebagian foto yang dilampirkan korbannya dalam utas pertama. Namun, tak lama kemudian, akun itu menjadi privat. Orang-orang yang tidak berteman dengannya tidak lagi dapat melihat postingannya. Ia dihujat beramai-ramai di media sosial. Orang-orang yang memiliki nomor pribadinya mengubah nama tampilan dan mengejeknya melalui Getcontact. Gilang, secara virtual, dikeroyok massa hingga babak belur. Tapi kita tidak tahu keadaannya di dunia nyata.
Secara pribadi saya tidak pernah berurusan dengan orang ini. Ia tidak mengontak saya melalui DM Instagram atau nomor pribadi di WA. Namun, ada beberapa hal yang saya kagumi darinya, dan melalui tulisan ini saya akan memberi tahu kelebihan apa yang ia miliki.
- Relasi yang Dominan. Sejak awal, ketika tangkapan layar dari percakapannya melalui WA atau pun DM Instagram tersebar, saya memperhatikan ada salah satu kemiripan satu sama lain. Yaitu bagaimana Gilang menjadikan dirinya lebih tinggi dalam relasi, membuatnya lebih berkuasa dibandingkan korban, sehingga percakapannya patronial. Ia akan menyebut dirinya mas, memerintahkan korbannya untuk ikut memanggil dirinya Mas Gilang. Ia juga menyebut korban atau lawan bicara dengan sebutan "dek", sehingga mereka sebagai "adik" akan berusaha untuk menyenangkan "kakak"-nya.Dengan cara... membalas percakapannya dan memenuhi permintaannya.
- Grammar Nazi dan Tulisan yang Rapi. Gilang juga diakui sangat pintar dalam berbahasa Indonesia menggunakan ejaan yang baik dan tanda baca yang sempurna. Kesalahan dalam tanda bacanya sangat sedikit ditemukan, berbeda dengan saya yang tidak memiliki editor pribadi sehingga masih banyak kesalahan berbahasa ditemukan di blog ini. Bagi sebagian perempuan, lelaki seperti ini cukup menarik sehingga pantas dijadikan pacar.
- Sangat Fanatik. Ketika melihat akun instagramnya, saya tidak menyangka bahwa akunnya akan diikuti oleh Ernest Prakasa dan Polisi Bahasa. Oke. Untuk yang kedua mungkin berkaitan dengan faktor nomor dua di atas, tapi tidak semua orang akan difolbek oleh dua akun itu. Ernest Prakasa dalam klarifikasinya mengenai foto bersama Gilang menyebut bahwa mahasiswa Unair ini menonton Imperfect (2019) sebanyak 12 kali, dan reviewnya terhadap film itu ditulis dengan sangat bagus dan mendetail
- Sangat Persuasif. Dan kelebihan ini adalah yang tidak saya miliki: Gilang Bungkus sangat persuasif. Ia berhasil menjebak korban-korbannya untuk melakukan banyak hal di luar nalar dan membuatnya menjadi terasa normal. Apalagi, ia kadang mengutarakan maksudnya kepada orang yang baru ia kenal. Itu adalah prestasi yang sangat hebat, dibandingkan diri saya yang tidak mudah berkenalan dan melakukan kontak sosial.
- Actually, there is no number five. Saya cuma mau bikin judul postingan kali ini jadi ganjil. Hehe...
Per 5 Desember 2020, Gilang resmi di-DO secara sepihak oleh Universitas Airlangga karena melanggar kode etik kemahasiswaan dan berperilaku tidak sesuai sikap akademis. Sehari setelahnya, 6 Desember, ia ditangkap Polda Jatim di Kalimantan Tengah. Ketika menulis ini, saya tidak merasa bersyukur atau semacamnya. Saya hanya berharap tidak jatuh ke jurang yang sama sepertinya, dan kalau pun jatuh ke jurang, tidak terlalu dalam.
Seburuk apa pun kelakuannya, saya masih bisa melihat sisi positif dirinya. Tapi, sebagaimana rasa kenyang, sisi positif yang berlebihan pun terasa memuakkan.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?