Dan Rasanya Puisi Ini Akan Menjadi Lucu Sekali
Hari ini kami bertemu kembali, aku memintanya mengantarkanku ke kantor bank di jalan raya besar tempat sebagian bisnis besar memutarkan aliran uang. Aku mendapat beasiswa beberapa bulan lalu, pada masa-masa awal pandemi, namun belum bisa mengambil uangnya, lalu baru bisa kulakukan hari ini. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan uang, namun keadaan dompet yang cepat menipis setelah sekian hari di Malang membuatku berpikir: aku seharusnya malu pada kedua orangtuaku.
Hari ini kami jalan-jalan lagi: ia bilang ia tidak memahami puisi ketika kami melewati tumpukan buku-buku tebal di toko terkenal, di mall besar. Oleh karena itu aku menulis ini, barangkali ia mau membaca sedikit dan paham, bahwa puisi tidak harus ditulis di atas kertas, tetapi juga di layar komputer; bahwa puisi tidak harus ditulis dalam bait dan berima, namun juga bisa mengalir macam alur pikiran manusia ketika berhalusinasi tentang masa depan; bahwa puisi tidak harus dinikmati bersama deru angin dan hangat matahari sore, tetapi juga bersama perasaan yang sama namun berbeda kapasitasnya.
Oh iya, Ran. Aku tidak merindukanmu. Kau cukup menjadi masa lalu dan tokoh fiktif dalam beberapa kesempatan aku bercerita. Ia cemburu, ia canggung. Aku sendiri terkadang tak tahu harus bersikap seperti apa, menyambutnya dengan ekspresi apa lagi. Namun aku hanya bisa menjadi diri sendiri, yang menyebalkan di luar maupun di dalam, yang membicarakan orang dengan semangat dan dosa di saat bersamaan. Aku seharusnya cukup mengingatmu sebagai luapan kemarahan sesaat, namun aku salah: emosimu abadi.
Kalau datang waktu di mana kita benar-benar bertemu tanpa beban masa lalu, aku ingin berdamai kembali: menyatakan sikap dan mengajukan tangan kanan, meminta maaf. Aku tau ini butuh waktu, sebanyak tangis dan tawa yang kau habiskan bersamaku, namun aku serius. Ia tahu aku tipe orang yang serius dalam bicara, namun aku tidak menemukan sosok yang ia ceritakan dalam cermin. Demi dirimu dan dirinya, aku kembali lagi di depan laptopku, menulis puisi macam Sapardi dan Mardi, cih.
Penasaran sama Rania
BalasHapuskamu bisa kenalan bid, kalo saya udah di unblock
Hapus