Pembangunan yang Terputus
Konsep pembangunan dalam ilmu ekonomi, yang kemudian diterapkan pula dalam disiplin ilmu lain, selalu berkonotasi positif. Ia dihadirkan dalam bentuk-bentuk hal baik, keadaan-keadaan yang bagus, suasana yang menyenangkan, menjanjikan kenyamanan bagi siapa pun yang mau menerimanya. Meskipun harus ada bayaran untuk setiap modal yang dikeluarkan bagi perencanaan hingga pelaksanaan, pembangunan tetap saja menjanjikan. Maka, siapa pun dengan mudah menerimanya, termasuk warga lokal yang kini terpinggirkan karena pembangunan Bibiyana Gas Field di Bangladesh.
Sejarahnya cukup panjang: pada pertengahan 1990, sumber gas ditemukan oleh Occidental. Pada 2000, Unocal mengambil alih sumber gas yang terpencar di beberapa daerah. Pada 2005, Unocal merger dengan Chevron dan setahun kemudian produksi gas dimulai. Pada 2010, perusahaan yang menguras sumber daya gas dirumorkan akan pindah dari lokasi tersebut, lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Masyarakat yang dianggap tidak tahu-menahu tentang sumber gas dan tidak dapat mengelolanya dinegosiasikan untuk pindah. Mereka dijanjikan pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak. Sebelumnya, daerah itu adalah pusat kemiskinan: tidak ada akses listrik, rumah-tangga tanpa lahan tanah, hingga makan yang maksimal hanya dua kali sehari. Sistem patron-klien yang dianut oleh masyarakat dianggap meningkatkan ketidakadilan ekonomi dan menjadi sumber eksploitasi. Namun, sistem itulah yang menjadi satu-satunya sumber bantuan masyarakat miskin sehingga masih mampu menyambung hidup.
Di awal, penulis artikel, Katy Gardner memberikan prinsip CSR Chevron yang mengajukan terma partnership, menjadikan masyarakat lokal sebagai partner dalam pembangunan gas plant, sekaligus mengangkat taraf hidup mereka menjadi lebih layak. Tapi, apakah bena-benar partnership? Gardner menjelaskan dalam dua hal bagaimana partnership ini tidak berjalan lancar: perekrutan pegawai dan penyaluran bantuan. Buruh yang dipekerjakan di pabrik memang penduduk asli Bangladesh, namun mereka bukan penduduk lokal. Mereka didatangkan dari provinsi atau kota-kota lain, yang kemudian diberikan tempat khusus atau mes untuk tempat tinggal. Selain itu, CSR yang disalurkan hanyalah seremonial: mereka memberikan bantuan, lalu LSM lokal yang mengeksekusinya.
Satu hal yang menjadi kunci bagaimana keduanya dapat berjalan sejauh ini -meskipun sering ditentang oleh penduduk lokal- adalah keberadaan local leader, pemimpin lokal yang menjadi jembatan antara Chevron sebagai perusahaan yang hendak membangun pabrik agar lebih lancar dengan masyarakat lokal yang terdampak dengan pembangunan tapi tetap mengharapkan timbal-balik yang setara. Gardner melihat adanya disconnect, hubungan yang terputus antara Chevron dengan masyarakat lokal dan kuncinya adalah pemimpin lokal yang tidak mewakili keberadaan masyararakat lokal, serta menjadi tempat tertampungnya kepentingan-kepentingan tertentu. Keberadaan pemimpin lokal yang tidak merepresentasikan masyarakatnya, adalah kunci permasalahan bagaimana masyarakat tidak mendapat CSR yang diberikan perusahaan. Bantuan itu terhambat di tengah jalan, lalu sisanya mengalir ke masyarakat bawah.
Saya melihat local leader yang berjarak dengan masyarakat adalah sumber permasalahan, meskipun pada akhirnya Chevron juga diuntungkan dengan keberadaannya dalam sistem penyaluran CSR. Chevron hanya memberikan sedikit dana dari laba perusahaan, menyerahkan perekrutan pegawai kepada pemimpin lokal yang membawa kerabat untuk mendapat pekerjaan, dan buruh-buruh dari tempat lain yang jarang memprotes dan biayanya lebih murah. Pemimpin lokal, menurut saya, adalah kunci permasalahan, yang menyebabkan pembangunan terputus dari tujuannya: memberikan kesejahteraan secara adil kepada semua pihak yang terlibat.
Pertanyaan yang saya ajukan cukup sederhana: apakah pemimpin lokal itu adalah pemerintah tingkat rendah? ataukah dia pemerintah level tinggi?

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?