Kantin Perpus dan Sekitarnya: Observasi Bagian Dua
Rabu, saya datang ke kantin akademik halalan thoyyiban setelah melakukan studi pustaka di perpustakaan. Ketika itu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan kantin perpus sedang ramai-ramainya. Saya duduk menghadap timur, tepat di stand paling pojok yang menyediakan menu gado-gado. Keramaian itu ditambah pula dengan volume televisi yang cukup kencang: ia menyiarkan berita KDRT kakak selebriti Chelsea Olivia. Beberapa mahasiswi yang duduk di seberang menonton berita itu sembari menghabiskan makanan.
Di depan masih ada kursi yang kosong. Seorang laki-laki paruh baya mengisinya. Ia memakai kemeja biru dan celana kain. Tak lama, seorang gadis berjaket biru masuk ke kantin. Ia memesan makan dari tempat yang sama, lalu duduk menghadap barat, bersandar pada seng. Dia juga membawa helm, yang kemudian ia taruh di kursi sampingnya. Keadaan semakin ramai. Beberapa kali meja yang saya tempati bergeser sendiri karena ditabrak tanpa sengaja.
Di hari Kamis, saya datang satu jam lebih awal setelah kelas. Kantin Halalan Thoyyiban sudah ramai duluan: kebanyakan mahasiswa makan beramai-ramai, ada pula yang makan sendirian. Biasanya, yang makan sendirian adalah laki-laki, entah itu mahasiswa atau pegawai kampus. Tidak hanya beli dari stand bernama sayuran yang ada di dalam, beberapa mahasiswa juga membeli makanan kemasan dari stand di luar. Stand di luar itu penuh dengan makanan olahan seperti roti atau gorengan.
Tidak banyak yang dapat diperhatikan: lampu yang terlalu terang, ruang khusus yang gelap, perbincangan-perbincangan yang ramai, mahasiswa-mahasiswi yang datang dan pergi, teman di sekitar yang mata keranjang memperhatikan mana laki-laki tampan atau wanita cantik, dan bising suara kipas angin. Meja yang saya dan teman-teman tempati sudah cukup kotor, menandakan beberapa orang sudah datang, makan, dan digantikan yang lain.
Saya observasi kembali dua hari kemudian, tapi kali ini tidak di dalam melainkan di bagian luar: selasar perpustakaan sebelah barat. Saya duduk menghadap utara, mendapat meja di nomor tiga dari Selatan. Hari Minggu, tidak seperti akhir pekan lalu yang dipenuhi wisudawan, kali ini lebih sepi: hanya ada seorang lelaki dengan laptop serta memakai earphone. Agak jauh, dua orang perempuan berpakaian serba putih mengusir kucing yang berkeliaran.
Dari tempat itu, saya bisa mendengar suara desir lemari pendingin. Berbagai macam orang melewati tempat saya duduk: seorang laki-laki dengan kaus bergaris dan bersepatu pantofel, dua orang perempuan berpakaian santai dan sepatu olahraga. Tak lama, datang seorang laki-laki berjaket krem dengan dua plastik besar di tangannya. Ia mengerluarkan jajanan kecil dalam bungkusan plastik, lalu disebarnya di atas meja untuk dijual.
Mendekati pukul setengah sepuluh, muncul perempuan dengan rambut basah. Ia mengenakan jaket hitam bergaris putih dengan kata 'Original' tertulis di dadanya. Ia datang untuk sarapan, lalu memberi sedikit makanannya pada kucing ketika lewat. Tak lama, ia pergi lagi. Ia membawa serta tas dan wadah makanannya.
Beberapa pasanga laki-laki dan perempuan lain datang: di belakang pasangan dengan pakaian merah dan pink mampir; arah jam empat ada pasangan lain dengan pakaian bercorak gelap datang untuk sarapan, lalu setelah selesai mengeluarkan buku catatan. Di depan saya, ada dua orang perempuan yang duduk, lalu salah satunya membuka laptop. Semakin siang, menjelang pukul sebelas, tempat parkir motor sudah mulai penuh. Saya berhenti di pukul sebelas saat itu.
Di depan masih ada kursi yang kosong. Seorang laki-laki paruh baya mengisinya. Ia memakai kemeja biru dan celana kain. Tak lama, seorang gadis berjaket biru masuk ke kantin. Ia memesan makan dari tempat yang sama, lalu duduk menghadap barat, bersandar pada seng. Dia juga membawa helm, yang kemudian ia taruh di kursi sampingnya. Keadaan semakin ramai. Beberapa kali meja yang saya tempati bergeser sendiri karena ditabrak tanpa sengaja.
Di hari Kamis, saya datang satu jam lebih awal setelah kelas. Kantin Halalan Thoyyiban sudah ramai duluan: kebanyakan mahasiswa makan beramai-ramai, ada pula yang makan sendirian. Biasanya, yang makan sendirian adalah laki-laki, entah itu mahasiswa atau pegawai kampus. Tidak hanya beli dari stand bernama sayuran yang ada di dalam, beberapa mahasiswa juga membeli makanan kemasan dari stand di luar. Stand di luar itu penuh dengan makanan olahan seperti roti atau gorengan.
Tidak banyak yang dapat diperhatikan: lampu yang terlalu terang, ruang khusus yang gelap, perbincangan-perbincangan yang ramai, mahasiswa-mahasiswi yang datang dan pergi, teman di sekitar yang mata keranjang memperhatikan mana laki-laki tampan atau wanita cantik, dan bising suara kipas angin. Meja yang saya dan teman-teman tempati sudah cukup kotor, menandakan beberapa orang sudah datang, makan, dan digantikan yang lain.
Saya observasi kembali dua hari kemudian, tapi kali ini tidak di dalam melainkan di bagian luar: selasar perpustakaan sebelah barat. Saya duduk menghadap utara, mendapat meja di nomor tiga dari Selatan. Hari Minggu, tidak seperti akhir pekan lalu yang dipenuhi wisudawan, kali ini lebih sepi: hanya ada seorang lelaki dengan laptop serta memakai earphone. Agak jauh, dua orang perempuan berpakaian serba putih mengusir kucing yang berkeliaran.
Dari tempat itu, saya bisa mendengar suara desir lemari pendingin. Berbagai macam orang melewati tempat saya duduk: seorang laki-laki dengan kaus bergaris dan bersepatu pantofel, dua orang perempuan berpakaian santai dan sepatu olahraga. Tak lama, datang seorang laki-laki berjaket krem dengan dua plastik besar di tangannya. Ia mengerluarkan jajanan kecil dalam bungkusan plastik, lalu disebarnya di atas meja untuk dijual.
Mendekati pukul setengah sepuluh, muncul perempuan dengan rambut basah. Ia mengenakan jaket hitam bergaris putih dengan kata 'Original' tertulis di dadanya. Ia datang untuk sarapan, lalu memberi sedikit makanannya pada kucing ketika lewat. Tak lama, ia pergi lagi. Ia membawa serta tas dan wadah makanannya.
Beberapa pasanga laki-laki dan perempuan lain datang: di belakang pasangan dengan pakaian merah dan pink mampir; arah jam empat ada pasangan lain dengan pakaian bercorak gelap datang untuk sarapan, lalu setelah selesai mengeluarkan buku catatan. Di depan saya, ada dua orang perempuan yang duduk, lalu salah satunya membuka laptop. Semakin siang, menjelang pukul sebelas, tempat parkir motor sudah mulai penuh. Saya berhenti di pukul sebelas saat itu.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?