Dari Hakim ke Jaksa: Tontonan Saya Terasa Tipikal
Cerita
Jaksa Lee Sun-wong (Lee Sun-kyun) sedang memancing bersama Kepala Cabang Kim In-joo (Jung Jae-sung) ketika mereka tertangkap oleh pihak militer. Bagaimana tidak. Danau tempat mereka bersantai itu adalah kawasan militer yang terlarang bagi warga sipil. Sang kepala cabang melompat ke danau, lalu berenang sejauh tiga kilometer. Sang jaksa junior tertangkap, diinterogasi polisi, lalu diantar menuju kantor kejaksaan. Kolega-koleganya merasa malu. Musuh-musuhnya begitu senang.
Itu adalah sebagian kisah Jaksa Lee. Belum lagi kolega-kolega satu departemennya di Departemen Kriminal Dua yang selalu bersaing dengan Kriminal Satu untuk menjadi yang terbaik: Kepala Departemen Cho Min-ho (Lee Sung-jae), Jaksa veteran Hong Jong-hak (Kim Kwang-kyu), jaksa wanita Oh Yoon-jin (Lee Sang-hee), dan jaksa magang Kim Jung-woo (Jeon Sung-woo). Semuanya memiliki problema masing-masing, solusi atas permasalahan masing-masing. Hingga datanglah wanita itu.
Jaksa Cha Myung-joo (Jung Ryeo-won) yang sering masuk tv karena kedisplinannya memberantas berbagai kejahatan pejabat. Ia datang ke kejaksaan paling kecil, paling terpencil, dan bahkan hampir terlupakan: Kejaksaan Jinyeong. Ia menempati ruangan 309 yang digosipkan berhantu. Sejak kedatangannya, ia sudah memberikan banyak kerepotan, terutama kepada Jaksa Lee yang merupakan kolega satu kampusnya. Sudah tentu Jaksa Lee tidak terlalu sukses dalam pendidikan. Tapi setidaknya ia lebih dekat dan lebih hebat dalam hidup bermasyarakat.
Bintang 3,5
Saya tidak menyangkal keberhasilan cerita dalam Diary of A Prosecutor. Narasi ayng dihadirkan Jaksa Lee begitu sederhana, humanis, dan tidak muluk-muluk. Jaksa Lee menghadirkan idealisme-idealisme seorang Jaksa, namun tidak lupa memperlihatkan struktur bobrok yang perlu dipertahankan agar masyarakat tetap utuh. Penonton akan selalu dibuat bersimpati, namun juga berdebar-debar apa yang akan terjadi selanjutnya; apakah idealisme normatif nan tragis ala Jaksa Cha akan menang? Atau kebodohan Jaksa Lee yang tidak bisa berpura-pura itu akan kembali terulang? Episode demi episode itu digambarkan dalam narasi yang tenang, tidak meledak-ledak.
Ekspektasi saya -atau mungkin penonton lain juga- akan kisah romansa dalam kehidupan jaksa mungkin akan buyar, manakala tahu bahwa Jaksa Lee sudah menikah bahkan punya satu anak laki-laki yang menjadi pelaku bullying. Kenapa ia tidak berjodoh dengan Jaksa Cha saja? Biasanya pasangan yang selalu bertengkar akan menjadi pasangan yang bagus, kok. Di akhir, kita diberi alasan mengapa Jaksa Cha membenci lelaki emosional itu. Bahkan sejak masa kuliah.
Aslinya, say hendak memberi empat bintang, namun terasa masih berat karena Miss Hammurabi-nya Go Ara mendapat nilai yang sama. Dan akhirnya, 3,5 mungkin sudah cukup untuk drama korea yang asik dan tidak membosankan ini. Saya tidak terlalu merekomendasikan, tapi siapa pun yang memiliki selera yang sama akan kehidupan pekerja kantoran, terutama pegawai negara yang melayani kepentingan publik, maka drama ini akan cukup menjadi hiburan.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?