Memahami Rezim Nilai dan Pengaruhnya dalam Praktik Keuangan Meksiko


Makalah ini mencoba untuk mengkomparasikan tiga kasus yang seharusnya berada dalam lingkup budaya yang sama, yaitu budaya Meksiko: seorang imigran perempuan Meksiko di California bernama Eva, seorang perempuan lain bernama Dona Juana dengan subjek mata pencaharian adat di Chiapas, dan Licha, seorang perempuan di Guadalajara yang bertahan hidup dengan ekonomi sederhana. Tapi, keadaan yang berbeda membuat mereka harus melakukan kegiatan ekonomi yang berbeda dengan sudut pandang yang sama.

Eva tinggal dalam sebuah rumah, bersama imigran-imigran meksiko lain yang berbagi ruang, makan, dan tugas bekerja. Imigran Meksiko sebenarnya termasuk dalam kelompok masyarakat yang 'tidak aman' untuk diberi pinjaman. Tetapi, impian Amerika yang begitu sempurna memaksa mereka untuk berutang dengan toleransi harus rela berbagi ruang agar dapat membayar angsuran secara bersama-sama.

Dalam kasusnya, rumah Eva sangat penuh sesak: ada dua pasangan dan empat anak, seorang wanita, seorang pria lajang, dan seorang pria lain yang meninggalkan keluarga di Meksiko. Komposisi rumah mereka tidak selalu seperti itu: terkadang ada beberapa orang yang harus kerja lembur dan tidak sempat pulang ke rumah, terkadang ada pula beberapa kerabat dari anggota rumah yang datang menginap. Kerja yang mereka dapatkan tidak selalu pasti dan tidak pula terikat kontrak hitam di atas putih.

Dari kasus ini, dapat dilihat adaptasi manusia terhadap situasi ekonomi yang memaksanya untuk berkembang tetapi juga harus bertoleransi terhadap kemampuan finansialnya yang kurang.

Kasus kedua berkisah tentang seorang perempuan bernama Dona Juana, tinggal di Chiapas, salah satu negara bagian termiskin di Meksiko. Kemiskinan ini kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan meggandeng PBB mencanangkan United Nations of Chiapas Agenda 2007-2012 dengan tujuan utama mengentaskan kemiskinan. Secara resmi, program itu memiliki tiga tujuan utama, yaitu: menjangkau populasi yang rentan untuk meningkatkan kapasitas mereka, mendorong kewirausahaan, dan mendorong pembangunan masyarakat serta daerah.

Secara nyata, program yang dilaksanakan adalah seputar pemberdayaan masyarakat: pendirian rumah hijau untuk produksi bunga kualitas ekspor, pinjaman mikro untuk kerajinan, dan pariwisata. kegiatan perekonomian yang dilakukan masih dalam lingkup keluarga, oleh karena itulah disebut mata pencaharian adat. Selain kerajinan, Dona Juana juga memiliki sebidang tanah milpa yang disewakan, lalu mendapat pembayaran dari hasil pertanian. Jam kerja yang mereka lakukan dihitung berdasarkan waktu Tuhan, yaitu waktu efektif siang hari dan hari-hari perayaan seperti musim tanam, musim panen, perayaan dan hari suci.

Dari pendalaman kegiatan ekonomi di Chiapas, dapat disimpulkan bahwa ekonomi yang mereka lakukan atas dasar solidaritas, bukan sebuah pasar.

Kisah ketiga bercerita tentang Licha, perempuan yang tinggal di lingkungan msikin Guadalajara. Sebagai perempuan, ia lah yang bertanggung jawab mengelola keuangan rumah tangga, dengan pengelolaan yang sederhana dan pinjaman seadanya. Guadalajara sendiri dikategorikan sebagai lingkungan miskin ekstrim, di mana pengangguran terus meningkat karena banyaknya pendatang dan pendapatan yang tidak stabil.

Licha bukannya tidak memiliki bantuan. Ia ditemani suaminya yang menganggur. Terkadang, sang suami mendapat pekerjaan sebagai kuli dan pendapatannya lebih banyak daripada yang didapatkan Licha. Tapi pekerjaan itu temporal dan tak pasti. Sang suami lebih banyak menganggur daripada bekerja. Pekerjaan yang Licha jalani di lingkungan rumahnya, tidak dapat dikategorikan sebagai pekerjaan: ia hanya menjaga kerabat atau tetangga, menyapu jalanan dan meminta sumbangan atas pekerjaan sukarela, membantu tetangga dalam memasak. Peluang yang diambil memang banyak, tetapi ketidakpastian ekonomi membuat ia dan suaminya berada dalam situasi yang cukup sulit.

Dalam hal pengeluaran, Licha termasuk konsumen yang hemat dan pandai memilah, mana yang dibutuhkan dan mana yang disukai. Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan, jika ada suatu hal yang benar-benar disukai untuk menjaga gengsi di lingkungannya, Licha berani mengambil keputusan untuk membeli lipstik atau satu-dua kosmetik lain. Dari kisah ini, dapat dilihat bahwa keputusan ekonomi tidak selalu berfokus pada keuntungan finansial. Hal itu juga dipengaruhi beberapa faktor lain seperti sosial, budaya, dan etika.

Apa itu Rezim Nilai?

Konsep rezim nilai pertama kali dikemukakan oleh Arjun Appadurai, antropolog Amerika kelahiran Mumbai, India dalam kumpulan esai, The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective (1986) yang diterbitkan oleh Cambridge University Press. Ketika itu, Arjun Appadurai yang masih bekerja di Pennsylvania University menjadi editor sekaligus memberikan kata pengantar dalam buku tersebut.

Secara sederhana, Appadurai berusaha memberikan pemahaman mendasar tentang ide bahwa komoditas sebagai benda mati memiliki kehidupan sosial yang menentukan nilainya dalam pertukaran: baik itu dalam jual-beli atau transaksi lainnya. Rezim nilai adalah ide bahwa nilai suatu komoditas ditentukan oleh manusia, sebagai pemberi nilai dalam tingkat yang sederhana, hingga oleh politik: kekuatan massa dan pemerintah yang dikuasai oleh golongan tertentu di tingkat yang lebih tinggi.

Pada tahap selanjutnya, rezim nilai akan menyediakan dasar-dasar penting bagi masyarakat untuk bernegosiasi, mendefinisikan komoditas, kekuatan dan identitas. Sebagaimana pemahaman masyarakat yang berubah-ubah, maka rezim nilai terhadap komoditas yang ada di pasar dapat berubah sepanjang zaman, bergantung pada pandangan masyarakat baik elit maupun non-elit. Intinya, rezim nilai ditentukan oleh kekuatan politik masyarakat dan penilaian kolektif yang ada.

Kesimpulan

Sebagaimana dipaparkan, makalah ini menunjukkan bagaimana setiap masyarakat memiliki persepsi yang berbeda terhadap kegiatan ekonomi rumah tangga meskipun berasal dari budaya yang sama, tanah Meksiko. Di California, masyarakat imigran Meksiko berusaha bertahan hidup dengan membeli rumah untuk diisi banyak imigran. Di Chiapas, mata pencaharian adat menjadi nama lain pariwisata yang digalakkan pemerintah menggandeng PBB. Di Guadalajara, penduduk berusaha bertahan dengan berbagai pekerjaan dan kondisi ekonomi yang tidak pasti. Setiap kondisi ekonomi mengharuskan manusia untuk bertahan dengan adaptasinya masing-masing.

Makalah ini juga menunjukkan bahwa perempuanlah yang menjadi manajer utama pengelolaan finansial rumah tangga, meskipun pendapatan sebagian besar berasal dari suami atau lelaki. Rezim nilai menjadi panduan bagi mereka agar dapat mengatur finansial serta utang.

Komentar