Kelas Pagi yang Terlalu Ramai


Saya kira akan memulai hari dengan kebahagiaan. Nyatanya, tidak banyak yang bisa ditemukan.

Kelas pagi dimulai dengan kajian etnografi. Pak Doni datang tak lama setelah kami masuk. Seorang teman perempuan yang duduk tepat di samping saya memperhatikan pakaian Pak Doni, lalu menilainya, "Lucu ya. Jarang lo Pak Doni pakek baju kayak gitu." Saya menyetujuinya, lalu tertawa dalam hati. Pak Doni datang dengan atasan kemeja biru dimasukkan ke bawahan hitamnya. Sebelum-sebelumnya, kami melihat beliau lebih kasual, dengan atasan jeans atau semacamnya. Kali ini, Pak Doni kelihatan lebih PNS.

Kelas dimulai dengan diskusi. Pak Doni meminta kami mengulas secara sederhana buku yang baru saja kami kumpulkan tugas reviewnya: The Religion of Java. "Ada yang ingin memberi kesan, hasil pembacaan buku ini?" Beliau sendiri memegang versi original buku itu cetakan pertama. Jika mau beli, harganya mencapai angka 200 ribu. Bajakannya sama seperti fotokopi, 50 ribu-an. Saya sendiri memegang versi asli, pinjaman dari perpus dan baru diperpanjang kemarin. Nanti, di tanggal 5 Oktober, saya ingin memperpanjang lagi, sampai satu semester. Hahahaha

Menghadapi pertanyaan seperti itu, teman sekelas saya berebut menjawab. Cara mengajar Pak Doni yang luwes dan santai, membuat kelas kami jadi ramai: semua orang bicara sendiri dan hampir tidak memperhatikan Pak Doni sebagai dosen. Memang benar setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda, tapi gak begitu juga dong kalo di kelas. Melihat keadaan kelas yang seperti ini membuat saya malas. Lebih baik diam saja, memperhatikan Pak Doni yang berusaha mengajar di tengah keramaian.

Tak jarang pula beliau menceritakan pengalaman penelitiannya di Kalimantan Tengah, yang sebenarnya menunjukkan tantangan dan hambatan seorang peneliti. Ia bersama seorang teman dicurigai sebagai penyusup, tentara, dan berbagai stigma lainnya. Kecurigaan itu baru hilang tatkala satu rekan penelitian beliau yang berasal dari Belanda datang: orang-orang Dayak percaya dan penelitian mereka berjalan lancar.

Hal yang paling saya catat dari kuliah Pak Doni pagi ini, adalah bagaimana beliau menjelaskan kritik terhadap The Religion of Java terus berjalan. "Jika buku kalian cacat, terus-menerus menerima kritik, maka berbahagialah. Itu artinya buku kalian berkualitas, setidaknya masih dibaca. Berbeda dengan tulisan-tulisan biasa: berkualitas tidak, dibaca pun tidak." Saya tertawa dalam hati. Dan beginilah tulisan saya sehari-hari di blog ini: tidak berkulitas tapi tetap ada yang membaca.

*****

Selesai kelas, saya pergi ke UKM seperti biasanya. Sampai di sana, saya membuka leptop untuk memulai catatan ini, tapi kakak tingkat pergi ke luar. "Mau ke mana?" saya bertanya. Mereka menjawab hendak pergi makan. Maka saya tutup leptop, dan bernagkat ke CL untuk memesan nasi goreng langganan saya. Letaknya di lantai dua, yang sepertinya sudah dipenuhi dengan maba. Hal itu terlihat jelas, dengan seragam batik atau hitam-putih serta name tag di dada.

Tak lama setelah kami bertiga -saya dengan dua orang kating- memesan, nasi goreng itu datang. Kami menyantapnya dengan pelan, karena salah satu kating sedang bersama teman yang kebetulan ditemuinya. Meski begitu, saya selalu habis duluan. Ini merupakan bentuk bakat atau anugrah: saya bisa makan cepat. Kalau ada kesempatan bertarung dengan youtuber-youtuber mukbang itu, mungkin saja saya bisa menang.

Selesai makan, kami kembali ke UKM, untuk menonton video terbaru dari Majelis Lucu: debat kusir tentang Revisi KUHP yang sedang viral. Video terbaru ini tidak terlalu menghibur sebenarnya, tapi selalu punya celetukan-celetukan bagus: bahan humor sehari-hari. Apalagi untuk saya yang sudah mulai meninggalkan jokes-jokes sampah. Saya di UKM sampai pukul dua, menunggu kelas tambahan yang akan dilaksanakan setengah jam kemudian.

*****

Kelas tambahan kali ini diadakan untuk mengganti kelas Pak Hipo -ya, kelas Antro terapan- yang akan tidak beliau hadiri di bulan Oktober. Hanya satu kali. Dan beliau memintanya diadakan sebelum beliau izin. Dan sebagaimana saya tulis seperti sebelumnya, kelas Pak Hipo selalu memotivasi. Tapi, selalu saja ada yang menodainya. Apa itu? Pertanyaan tak nyambung yang diajukan anak-anak ambis. Dan kali ini, hal itu lagi-lagi terjadi.

Ada dua orang di angkatan kami yang sudah saya tandai. Setiap matkul, atau setidaknya setiap ada presentasi, mereka akan bertanya. Saya tidak mau menebak motifnya, entah untuk nilai atau memang benar-benar tidak paham. Tapi ada satu hal yang saya catat: pertanyaan yang mereka ajukan kadangkala tidak memiliki kesinambungan dengan presentasi.  Hal itu bukan saja menyusahkan teman-teman yang mejadi presenter, tapi hal itu juga perbuatan bodoh. Tidak, saya tidak mengaku pintar. Tapi saya tahu mana perbuatan baik, dan mana perbuatan bodoh.

Saking bodohnya, Pak Hipo yang diam saja memerhatikan dari pojok ruangan, sampai turun tangan. "Saya pikir pertanyaan kamu memang ada kaitannya dengan topik kita kali ini," begitu Pak Hipo mulai menyela. "Tapi pertanyaan itu tidak ditujukan untuk presentasi ini." Satu orang lagi memberikan pertanyaan -yang bukan saja tidak nyambung- tapi juga beranak. Setelah satu pertanyaan 'coba' dijawab oleh presenter, ia memberikan beberapa pertanyaan lanjutan.

Di titik ini, saya sampai bersuara kalo dua teman kami yang saat itu jadi presenter, levelnya 'sudah lulus sempro dan semhas.'

Kelas selesai dengan tugas tambahan bahwa kami harus merevisi abstrak penelitian yang kami ajukan. Belum lagi, untuk UTS nanti, kami akan menyelesaikan Bab I dalam lima halaman. Semoga saja saya salah tangkap dan tidak memahami kalau lima halaman itu termasuk Bab II. Karena memang Bab I saya hanya dua halaman, dan itu termasuk rumusan masalah dan tujuan penelitian. Nanti, setelah penjelasan tentang tugas selesai, saya akan menyempurnakan rancangan penelitian saya.

*****

Saya berjalan pulang dengan musik rock sore hari. Lagu-lagu Asking Alexandria terputar begitu saja, dan memang terasa enak. Suasana sore hari membuat saya nyaman, apalagi dengan telinga kanan yang 'dibentak-bentak'. Saya menyusuri daerah Kerto dengan biasa, mematikan musik tatkala datang azan maghrib, menyeberang jalanan ramai, dan berhenti di Lumintu. Tumben sekali sore ini warung murah ini tidak terlalu ramai. Atau mungkin saya terlambat memenuhi keramaian itu.

Saya mengambil nasi sebanyak-banyaknya, lalu meminta orek tempe dan sayur tauge. Sebelum makan, seseorang dengan batik merah datang. Ia kakak kelas di pondok dulu, dan kami saling bertanya kabar. Saya mengajaknya makan, tapi beliau ingin pergi dengan alasan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Saya pun makan sendiri, ditemani video-video youtube yang saya pilih sendiri. Selesai makan, saya baru sadar belum memesan minum, dan akhirnya memesan teh hangat. Dahaga barulah tuntas beberapa menit kemudian.

Makan di Lumintu sangatlah murah. Satu porsi nasi sepuasnya, satu plastik berisi dua buah kerupuk, dan segelas teh hangat hanya dihargai 9 ribu! Tunggu, tunggu. Ayo hitung dulu. Kalau teh hangat sudah pasti 3 ribu, maka sepiring nasi dan kerupuk sekitar 6 ribu. Kalau memang krupuk itu seribu, maka fix nasi + tauge + orek tempe hanya 5 ribu! My God! Mending makan di sini tiap hari, biar hemat buat yang lain. Iya kan? Tapi sayang, Lumintu gak buka pagi hari, di jam-jam saya kelas pagi.

Di perjalanan pulang, lagi-lagi saya bertemu kakak kelas. Ia menghalangi jalan kaki dengan motor setelah melihat saya dari kejauhan. Saya bersalaman, tapi tidak sempat bertukar kabar lebih lanjut: motornya berhenti saja sudah hampir membuat jalan macet. Daerah Sunan Kalijaga ini memang terlalu sempit. Kami berpisah dan saya melanjutkan jalan kaki. Saya harus bergegas, karena belum sholat maghrib.

*****

Komentar