Feel Not Good
Kemarin malam, saya merasakan rasa sakit yang sangat hebat di dada. Tepatnya, di dada sebelah kiri. Saya menahannya sekuat tenaga, sejak setelah Isya', waktu-waktu memurojaah Al-Qur'an, menulis kegiatan harian di blog ini, hingga malam. Saya berkali-kali berguling di atas kasur, berguling ke kanan, ke kiri, tapi tetap saja sakit. Di tengah usaha menahan rasa sakit itu, saya membuka hape, lalu googling, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan keyword 'rasa sakit di dada', saya menemukan nama itu: "Nyeri Dada." Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat ini, saya jadi tahu apa itu Nyeri Dada: ketidaknyamanan di dada termasuk nyeri ringan, perasaan tertekan atau terbakar, nyeri yang menusuk tajam, dan nyeri yang menjalar ke leher atau bahu. Penyebabnya macam-macam. Tapi, dari yang saya baca, mungkin saja karena saya terlalu capek kemarin: bersepeda menembus kemacetan.
Mengetahui penyakit itu tak membantu sama sekali. Akhirnya saya keluar kamar dan mengambil air hangat dari dispenser di koridor asrama. Di depan dispenser, saya bertemu dengan adik tingkat yang bertanya tentang pendaftaran UKM. Saya menjawabnya sebisa mungkin, sembari tetap menahan rasa sakit itu. Ketika saya kembali ke kamar dan berhadapan dengan laptop lagi, rasa sakit itu mulai berkurang. Setidaknya, kemarin malam saya sudah bisa tidur dengan tenang.
Tapi berbeda dengan hari ini.
Saya merasa tidak enak badan selepas tidur siang. Lagi-lagi, saya menyalahkan rasa capek sebagai penyebabnya. Dari pagi, saya bersepeda tanpa henti: ke kampus untuk kelas, ke UKM untuk menitip tas dan sarapan, lalu pergi ke book fair di Perpustakaan Pusat, membeli sebuah buku lama berharga murah. Di akhir, saya langsung kembali lagi ke asrama, melalui jalan raya di siang hari. Sebelum duhur datang, saya sudah membuka laptop di kamar.
Memang saya belajar banyak hal hari ini, termasuk membaca kembali bahan review yang pusingnya setengah mati. Tapi sepertinya keletihan fisik-lah yang membuat saya drop. Tubuh saya terasa lebih hangat dan saya lebih sering bersin. Pusing masih menjadi momok terberat saya: mengganggu konsentrasi ketika belajar atau mengaji, dan membuat mood saya untuk melakukan sesuatu hilang begitu saja. Untuk tak enak badan hari ini, saya harus mencari obatnya.
Dan obat yang selalu ampuh untuk kondisi seperti ini adalah keluar berjalan kaki mencari bakso. Makanan berkuah hangat selalu mengobati. Yah, setidaknya memberikan efek yang lebih baik. Di pinggir jalan, ada Bakso Rejeki, tepat di samping Indomaret tempat saya biasanya membayar pesanan buku online. Di sana, saya memesan seporsi bakso campur, dengan lontong agar lebih kenyang. Saus sambal yang disajikan di atas meja tidak pedas, malah terasa agak manis. Cukup menghibur lidah saya yang selalu meminta makanan pedas.
Sampai tulisan ini dimuat, hidung saya masih pilek, dan ketika tangan saya menyentuh leher, ada rasa hangat menjalar. Saya tetap pada kebiasaan: membuka laptop, mengerjakan satu-dua tugas, ditemani playlist JOOX dan secangkir STMJ sachet. Hidup yang sedrhana, sebenarnya. Tapi terasa indah ketika berhasil melewati rintangan-rintangan kecil setiap harinya.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?