The Professor (2019) - Lelaki yang Menjemput Kematiannya Sendiri
Judul asli dari film drama komedi ini adalah Richard Says Goodbye, dengan premis utama divonisnya Prof. Richard Brown (Johnny Depp) mengidap kanker paru-paru. Tak hanya itu, ia juga terserang tumor di punggung bagian atas akibat dari kanker itu. Dengan pilihan tak mengambil pengobatan apa pun, Richard hanya punya waktu enam bulan tersisa. Maka ia pun memutuskan untuk mengajukan cuti selama dua semester. Bukan untuk berobat, ia mengambil cuti untuk pergi jauh dari keluarganya. Ia ingin mati sendirian dan penuh ketenangan.
Film yang disutradarai Wayne Roberts ini berlatar tempat di sebuah kampus mahal di kota kecil. Setelah mengetahui pengajuan cutinya tidak bisa cepat diterima, maka ia pun mengadakan kelas dengan terpaksa: ia mengusir semua murid yang tampak tidak niat menghadiri kelasnya. Ia mencoba merokok (sebelumnya tidak pernah), lebih sering ke bar, dan mengadakan pertemuan di luar kelas.
Frustasinya menghadapi kematian yang terlalu cepat itu diperparah dengan keadaan keluarganya. Istrinya mengakui dengan jujur dan tanpa dosa atau pun malu,, bahwasanya ia berselingkuh dengan rektor universitas. Keputusan anaknya untuk menjadi lesbian bukan masalah baginya, tapi kehilangan istrinya karena harta dan posisi, membuat ia memaksakan sebuah komitmen baru dalam hubungan mereka: keduanya bebas bergaul dengan siapapun -secara seksual juga tentunya, melakukan apapun yang diinginkan, tapi tetap berkeluarga demi putri mereka satu-satunya. Itu adalah keputusan berat yang diambil Richard. Tapi setidaknya kedua pihak setuju dan menjaga komitmen baru ini hingga tiba saatnya.
Pembagian babak dalam film ini menarik, karena belum pernah menonton satupun film berbabak sebelumnya. Dari keseluruhan cerita, film ini dibagi menjadi enam babak: I Have Something to Say sampai I Still Have Something to Say. Saya secara pribadi lupa apa saja judul babaknya. Hanya saja, setiap babak memang mewakili dan menjadi alur dari film ini.
Johnny Depp, sebagaimana dalam film-film lainnya, ia bermain sangat apik. Kisahnya yang hanya berfokus pada tingkah-laku dan gerak-geriknya membuat ia berakting optimal. Tokoh-tokoh lain muncul dengan komposisi yang pas dan sesuai dengan proporsi perannya masing-masing. Meski bergenre drama komedi, film ini penuh dengan adegan di luar kelaziman. Bagi penonton asal Endonesa seperti saya, film ini lebih mirip Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Dan pastinya, anda akan berusaha tertawa tapi tidak bisa. Humor film ini tertahan oleh tragedi.
Dan kenyataan bahwa kita sebagai manusia harus siap menghadapi kematian. Selayaknya yang dilakukan Prof. Richard.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?