Pilih Novel atau Film Adaptasinya?


Photo by Sincerely Media on Unsplash
Oleh: Moh. Said Abdullah*

"Film adaptasi novel lebih buruk dari novelnya."

Saya sering mendapati pernyataan di atas terlontar dari mulut teman-teman saya sehabis mereka menonton sebuah film yang merupakan hasil adaptasi dari sebuah novel. Saya sendiri tidak kaget karena saya sendiri dulu punya pola pikir demikian. Film adaptasi novel pertama yang saya tonton adalah The Hunger Games: Catching Fire yang dibintangi oleh Jennifer Lawrence. Film itu sangat menghibur dan menyenangkan, meskipun saya kurang paham penuh plot ceritanya pada waktu itu. 


Keseruan tersebut memancing saya untuk membeli trilogi novelnya. Setelah novel-novel karya Suzanne Collins tersebut saya tamati, saya berkesempatan menonton film adaptasi novel pertama, The Hunger Games, dari trilogi itu dan saya benar-benar kecewa. Saya mendapati banyak adegan favorit saya tidak masuk dalam filmnya dan banyak karakter yang saya suka memiliki porsi adegan yang berbeda atau bahkan tidak ada sama sekali. 


Mulai saat itulah, saya selalu beranggapan kalau film adaptasi novel tidak akan pernah bisa menyamai novel aslinya. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun hingga pertengahan tahun 2020.


Saat itu saya menemukan kanal YouTube bernama StudioBinder yang berisikan video-video seputar dunia perfilman. Salah satu playlist yang ada di sana menjelaskan tahapan pembuatan film, mulai dari awal pembuatan naskah hingga distribusi.Selang beberapa waktu, dan sehabis menonton banyak video dari kanal tersebut, saya memahami bahwa membuat film, termasuk film adaptasi novel, memiliki seninya sendiri dan sangat berbeda jauh dari seni kesusastraan, yang saya pelajari di kampus.


Dalam tahapan pembuatan film, terdapat banyak proses yang perlu diperhatikan dan setiap proses tersebut sangatlah vital bagi hasil keseluruhan filmnya nanti. Menentukan karakter atau adegan dari novel mana yang kelak akan masuk dalam film hanyalah sebagian proses dari sekian banyaknya proses pembuatan film.


Kesimpulannya, novel dan film merupakan hasil dari usaha seni yang berbeda. Ketika sebuah novel difilmkan, kita harus memahami dari awal bahwasanya dua hal tersebut merupakan hal yang berbeda dan kurang pas bila dibandingkan. Mungkin masuk akal kalau ada yang lebih menyukai novel ketimbang filmnya, karena dia lebih suka menggunakan interpretasi imajinasinya sendiri daripada orang lain, namun bukan berarti salah satunya lebih baik dari yang lain. Kita harus menilai keduanya sesuai dengan bentuknya sendiri. Ibarat mau menimbang berat badan bayi gunakanlah timbangan bayi jangan gunakan timbangan untuk orang dewasa karena keduanya sudah berbeda.


Pada akhirnya, semuanya kembali kepada para penonton dan pembaca, preferensi semua orang berbeda-beda dan itu adalah hal yang wajar. Hanya saja, lain kali mungkin turunkan ekspektasi berlebih sebelum menonton film adaptasi novel favoritmu dan nikmat film itu apa adanya.


Peace ✌🏾


*Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta, teman seangkatan pemilik blog sejak SMP hingga SMA, tapi kenapa dia ngambil jurusan bahasa Arab padahal waktu mondok aktif di bahasa Inggris?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir